LUMAJANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Semeru terus meluas. Jarak titik api dengan permukiman warga di Desa Ranupane, Kecamatan Senduro kini diperkirakan hanya sekitar 1 kilometer.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, membenarkan kondisi tersebut.
“Permukiman warga sekitar 1 kilometer dari Pos 1 pendakian Gunung Semeru,” kata Isnugroho, Selasa (26/8/2026).
Di tengah kepulan asap, warga dan petugas menemukan bangkai satwa. Salah satunya adalah tengkorak kijang di sekitar area yang terbakar.
Namun bangkai itu diduga bukan mati karena terjangan api.
“Yang kedua tengkorak hewan kijang, tapi ini masih akan kami teliti apakah ini matinya sudah lama atau akibat kebakaran,” ujar Isnugroho.
Hal senada disampaikan warga Ranupane, Slamet, 42, yang ikut membantu pemadaman sejak 3 hari terakhir. Ia mengaku mencium bau busuk saat melintas di jalur lereng.
“Saya lihat ada bangkai kijang. Badannya tidak gosong, tidak ada bekas terbakar. Baunya sudah menyengat sekali. Kayaknya sudah mati duluan sebelum api datang ke situ,” cerita Slamet.
Menurutnya, kondisi satwa liar di sekitar lereng mulai resah sejak api muncul Rabu (26/8/2026) lalu.
“Hewan-hewan pada turun. Tadi malam dengar suara aneh dari hutan. Kami khawatir kalau apinya makin dekat ke ladang warga,” tambahnya.
Selain bangkai kijang, petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) juga menemukan jejak kaki macan tutul di sekitar lereng yang terbakar.
Hingga kini petugas belum menemukan bangkai hewan buas tersebut. Dugaan sementara, macan tutul sudah bermigrasi ke lokasi yang lebih aman menjauhi api.
“Sepertinya bermigrasi ke tempat yang lebih aman,” kata petugas TNBTS di lapangan.
Karhutla di lereng Gunung Semeru sudah berlangsung sejak Rabu (26/8/2026) dan hingga kini belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Angin kencang dan medan terjal menjadi kendala utama petugas gabungan.
Sebagai langkah antisipasi, BB TNBTS resmi menutup aktivitas pendakian Gunung Semeru ke Ranu Kumbolo sampai batas waktu yang belum ditentukan.
BPBD Lumajang bersama TNBTS, Perhutani, TNI, Polri dan relawan masih berjibaku membuat sekat bakar untuk mencegah api merambat ke permukiman.
Warga Ranupane diimbau tetap siaga, menggunakan masker, dan memantau informasi resmi dari BPBD. Jika jarak api semakin dekat, jalur evakuasi menuju balai desa sudah dipersiapkan. (red)













