HomeJawa TimurStok Tanaman Jahe dan Kunyit di Jatim Melimpah

Stok Tanaman Jahe dan Kunyit di Jatim Melimpah

 

SURABAYA — Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Hadi Sulistyo menyebutkan stok tanaman herbal seperti jahe dan kunyit di Jatim masih terjaga.

Hal itu disampaikan kepada media SariAgri beberapa waktu lalu saat dimintai keterangan terkait ketersediaan empon empon di masa pandemi Covid 19 tahun 2020.

Dikatakan olehnya jika stok tanaman jahe dan kunyit di Jawa Timur masih melimpah, meski penjualan rempah rempah di pasar tradisional meningkat tajam.

Advertisement

“Masyarakat yang membutuhkan tanaman rimpang ini tak perlu khawatir, sebab ketersediaannya masih aman,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini malah menguntungkan petani maupun pedagang empon empon di pasar tradisional, harganya pun relatif stabil. Bahkan di masa transisi menuju tatanan kehidupan new normal, peminat empon empon tergolong tinggi.

Dituturkan, hingga akhir mei 2020 produksi jahe di Jatim mencapai 40 juta kilogram dengan luas panen 28 juta meter persegi. Daerah yang paling banyak menyumbang produksi jahe adalah Pacitan dengan produksi pertahun mencapai 14 juta kilogram.

Dijelaskan pula Kabupaten Situbondo, Malang, Ponorogo dan Trenggalek masing masing menyumbang produksi jahe 10,7 juta kilogram, 7,7 juta kilogram, 3,1 juta kilogram dan 2,3 juta kilogram.

Dalam kondisi seperti ini kenaikan harga jahe di beberapa pasar biasanya cenderung naik seiring meningkatnya permintaan, tetapi kami menghimbau kepada masyarakat di Jawa Timur untuk tidak panik dan tidak melakukan aksi borong empon empon mengingat stok yang masih melimpah, jelasnya.

Sementara dikonfirmasi di tempat terpisah, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, sudah saatnya petani empon-empon menikmati hasil kerja kerasnya.

Menurutnya, selain dijual di pasar tradisional, empon-empon juga banyak dibutuhkan industri kecil hingga besar sebagai bahan baku utama jamu dan obat.

Emil menilai bisnis jamu merupakan peluang usaha yang bisa meraup keuntungan banyak. Apalagi saat ini digalakkan hidup sehat. Maka dari itu, banyak orang yang mulai beralih dari minuman instan ke herbal.

“Kita sekarang menyebut jamu sebagai usaha profesional di bidang obat tradisional. Artinya, kita juga memikirkan pengembangan SDM-nya, hingga produksinya juga harus dipikirkan,” katanya, dikutip dari SariAgri Jawa Timur.

Emil melanjutkan, Indonesia dikenal dengan julukan live laboratory. Dari total sekitar 40 ribu jenis tumbuhan obat, 3.000-nya disinyalir berada di Indonesia. Jumlah tersebut mewakili 90 persen dari tanaman obat yang tedapat di Asia.

“Jatim mempunyai potensi 27,3 persen usaha mikro obat tradisional (UMOT) dari nasional. Oleh sebab itu, faskes, baik itu rumah sakit dan lembaga pendidikan kesehatan cukup memadai. Sehingga ini menjadi aset bagi Jatim untuk menjadi pendorong dari pemgembangan industri,” jelasnya lebih lanjut.

Dikatakan Emil Dardak, peran Pemprov Jatim yakni perizinan hingga pembinaannya telah dipikirkan. “Kami rasa perda ini akan menjawab keberpihakan terhadap industri obat tradisional,” papar Emil yang juga mantan Bupati Trenggalek ini.

Pihaknya juga mengharapkan obat herbal bisa mengisi tempat dibandingkan obat kimia. Hanya saat ini perlu dipikirkan caranya supaya standar tata laksana medis ini bisa dijawab dengan herbal.

“Nah, ini makanya peran semua pihak juga sangat dibutuhkan. Termasuk praktisi kesehatan agar bisa memaksimalkannya,” terangnya.

Emil Dardak menyebutkan selama masyarakat masih menggunajan paradigm lama yakni herbal dianggap sebagai suplemen, bukan sebagai obat.

“Inilah yang perlu kita rubah paradigmanya. Bahwa sebenarnya tidak selalu dokter harus memberi resep obat kimia. Kita mengharapkan inibisa berkembang,”pungkasnya sambil berpamitan melanjutkan agenda kegiatan di tempat lain. (*)

RELATED ARTICLES

Most Popular