
312 RW di Kota Cimahi Terancam Krisis Air Bersih, BPBD Siapkan Mitigasi Hadapi Puncak Kemarau 2026
Cimahi,Jumat(05/06/2026)
Ancaman krisis air bersih mulai membayangi Kota Cimahi menjelang puncak musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi memetakan sedikitnya 312 rukun warga (RW) di seluruh kelurahan berpotensi mengalami kekeringan akibat dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memicu cuaca lebih kering dari biasanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, mengatakan pihaknya telah meningkatkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan cuaca sekaligus menyiapkan berbagai langkah mitigasi menghadapi potensi krisis air bersih.
“Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung antara Agustus hingga Oktober 2026. Seluruh wilayah Kota Cimahi memiliki potensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih,” ujar Fithriandy.
Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB), wilayah selatan Kota Cimahi masih menjadi kawasan paling rentan mengalami kekeringan. Kelurahan Melong, Utama, dan Leuwigajah tercatat sebagai daerah yang paling terdampak saat musim kemarau panjang dalam beberapa tahun terakhir.
Kerentanan tersebut dipengaruhi tingginya ketergantungan masyarakat terhadap air tanah dan sumur warga. Ketika kemarau berlangsung dalam waktu lama, debit air terus menurun hingga menyebabkan sejumlah sumur mengering dan mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat.
Selain faktor cuaca, tingginya pemanfaatan air tanah di kawasan permukiman padat dan industri juga dinilai mempercepat penurunan cadangan air bawah tanah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya krisis air bersih.
Mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD Kota Cimahi telah menyiapkan skema penanganan darurat apabila terjadi kelangkaan air di masyarakat.
Distribusi air bersih akan dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi serta Perumda Tirta Raharja berdasarkan laporan warga di wilayah terdampak.
“Begitu ada laporan masyarakat mengalami kesulitan air bersih, kami akan segera berkoordinasi agar bantuan air dapat didistribusikan secepat mungkin,” kata Andi.
Selain ancaman kekeringan, BPBD juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan permukiman yang umumnya meningkat saat musim kemarau. Hasil pemetaan menunjukkan kawasan Cireundeu di wilayah selatan serta Cipageran dan sekitarnya di wilayah utara memiliki tingkat kerawanan kebakaran yang cukup tinggi.
Meski demikian, BPBD menilai tingkat ancaman kebakaran pada musim kemarau tahun ini masih berada pada kategori sedang. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun terakhir, kebakaran lebih banyak terjadi di lahan kosong dan kawasan yang ditumbuhi alang-alang kering.
Untuk meminimalkan risiko bencana, BPBD terus berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Cimahi serta BMKG dalam memantau perkembangan cuaca selama musim kemarau.
Meski musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, BPBD tetap mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran yang dipicu cuaca kering ekstrem.
Dengan langkah mitigasi yang telah disiapkan, BPBD berharap dampak kekeringan terhadap aktivitas masyarakat dapat ditekan, sekaligus memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Achmad Syafei










