LUMAJANG – Akhirnya para ketua dan sekretaris partai politik di Kabupaten Lumajang menyatakan sepakat untuk menggelar silaturahmi rutin yang digagas oleh Wabup Indah Amperawati.
Kesepakatan tersebut terungkap setelah sejumlah pengurus partai politik melaksanakan pertemuan yang dikemas dalam acara Halal Bihalal di Rumah Dinas Wakil Bupati RW 06 Kelurahan Ditotrunan pada Jum’at (20/5/2022) malam.
Namun demikian, silaturahmi para pengurus parpol yang digagas oleh Wakil Bupati Lumajang tersebut menuai komentar beragam dari komunitas jagongan warung kopi. Salah satunya komunitas jagong di warung kopinya cak Imam di jalan Iptu Jama’ari Gg 3 nomor 15.
Dalam jagongan mereka, sempat tercuat pertanyaan terkait kemungkinan kemungkinan. Bahkan diantara mereka ada yang menyebut silaturahmi para elit parpol itu justru akan menyulut perbedaan tentang ideologi.
“Perbedaan akan tetap hidup dan menjadi warna bagi keberadaan partai politik di tingkat lokal. Apalagi perbedaan pandang dari masing masing partai terlahir dari kemajemukan. Sulit untuk “mendamaikan ide” hanya dengan silaturahmi rutin para ketua parpol tersebut,” kata Parto, salah seorang pecandu kopi yang ikut jagongan.
Mempertemukan ketua dan sekretaris partai politik di Kabupaten Lumajang dengan tujuan menciptakan kerukunan kegiatan silaturahmi serta mengurangi ketegangan politik menjelang pemilu, dinilai hanya pepesan kosong.
“Memang, meningkatkan intensitas silaturrahim antar pengurus partai politik itu sangat positif menurut saya, tetapi jika menganggap silaturrahim itu sebagai rekonsiliasi dua perbedaan ide yang mendasar sangat tidak mungkin. Itu hanya sebatas fatamorgana,” ucap Parto lagi.
Parto menambahkan, dari sisi konsep dan ide antar parpol saja tentu memiliki perbedaan yang sangat kuat sekali. Namun jika kemudian dari gagasan kemesraan antar tokoh parpol tersebut dapat terbangun melalui silaturahmi, itu adalah bagian dari rasa saling membutuhkan.
Bisa saja ada semacam “transaksi materi” sebagai upaya untuk saling memegang komitmen politik yang bernuansa transaksi politik. Sebab, pertemuan semacam itu sering menghasilkan kesepakatan politik. Entah itu karena ingin mengajak oposisi untuk berada di sampingnya, atau oposisi meminta untuk mengakomodir kepentingan politiknya, masih kata dia.
Meskipun oposisi akan berkoalisi, lanjut Parto, tetapi oposisi terhadap kekuasaan tidak akan mudah berakhir, pun tidak selalu bisa ditentukan oleh para ketua dan sekretaris parpol tersebut. Begitu pula dengan perbedaan ide dan cara pandang dari masing masingnya, tidak akan berakhir hanya karena silaturahmi rutin sebagaimana gagasan Wabup Lumajang tersebut.
Jagongan berakhir setelah mendengar sholah sholah menjelang sholat dhohor dari musholah yang ada di depan warung Cak Imam. Para komunitas jagong pun segera membubarkan diri usai menyeruput kopinya masing masing. (duk).




