Munculnya Kerajaan Keraton Agung Sejagat Diperbincangkan Warga

0
222

PURWOREJO Gempurnews.com- Santernya perbincangan warga mengenai munculnya Kerajaan Keraton Agung Sejagat di Purworejo Senin (12/01/2020), membuat sejarawan setempat angkat bicara. Pasalnya, kisah dan riwayat yang disampaikan oleh Pemimpin Kerajaan Keraton, Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat tidak berdasar.

Soekoso DM, sejarawan Purworejo mengungkapkan, sejauh sejarah yang telah ia pelajari dan berdasarkan literasi yang ada, Kerajaan Majapahit masih melakukan perjanjian dengan Portugis tahun 1518.

“Kalau tahun Saka runtuhnya (Majapahit) adalah tahun 1400 dengan sengkala Sirna Ilang Kertaning Bumi. Karena ada perbedaan dengan tahun Masehi dan tahun Saka, yaitu 78 tahun. Majapahit runtuh pada 1478, bukan 1518,” ujarnya, Selasa (14/01/2020).

Soekoso juga menyatakan jika Majapahit luruh tahun 1478 M. Namun ada trahnya yang membangun kerajaan Demak. Bahkan pada jaman Ratu Kalinyamat pernah menyerang Portugal di Malaka dan berlanjut menjadi kerajaan Pajang, lalu Mataram Islam. Kemudian ada rekayasa Belanda sehingga pecah menjadi Sala dan Jogja, menurut kisah dari perjanjian Giyanti 1755.

Terkait literatur Stadblaad Atlantic yang disebut oleh kelompok Keraton Agung Sejagat, Soekoso mengaku belum mengatahui hal tersebut. Jikalau ada perjanjian 500 tahun di Malaka, Soekoso justru menyatakan bingung.

“Yang tanda tangan siapa, penguasa mana saat itu? Ya masih perlu kajian metodologi sejarahnya. Raja Agung Sejagat ini terkesan ngayawara (red: berkata-kata tanpa patokan atau tidak ada arti/kenyataanya),” ungkapnya menukil laman Purworejo24.com

Sebelumnya, Kanjeng Sinuhun Keraton Agung Sejagat, Totok Santosa Hadiningrat didampingi permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarja pada Minggu (12/1) menggelar Wilujengan dan Kirab Budaya. Acara digelar sebagai bentuk penyambutan kedatangan Sri Maharatu Jawa kembali ke tanah Jawa setelah perjanjian 500 tahun. Terhitung sejak hilangnya kemaharajaan nusantara, yaitu Imperium Majapahit pada tahun 1518 sampai tahun 2018.

“Perjanjian 500 tahun tersebut dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat di Malaka pada tahun 1518. Maka setelah perjanjian tersebut berakhir kekuasaan harus dikembalikan ke tanah Jawa,” papar Kanjeng Sinuhun Totok, juga mengaku memiliki trah Wangsa Sanjaya. (**)