Jember, gempurnews.com – Pasca banjir bandang yang menerjang Desa Klungkung Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember pada Sabtu (1/2), Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jember bersama Tim Perencanaan Hutan Wilayah (PHW) V Jember langsung melakukan identifikasi terhadap data petak-petak hutan yang diduga sebagai hulu yang menjadi luapan air.
Dari hasil identifikasi tersebut, Administratur Perhutani KPH Jember Rukman Supriatna menjelaskan, hulu dari luapan air yang menerjang Kali Jompo terdapat di Gunung Argopuro bagian paling atas.
Masih menurut Rukman, curah hujan yang tinggi di atas Gunung Argopuro tersebut airnya mengalir deras melalui areal Perkebunan PTPN XII Durjo dan hutan Perhutani petak 74, 59,-63 wilayah Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Arjasa, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lereng Yang Timur.
Lebih lanjut Rukman menjelaskan, bahwa jalur lintasan air berawal dari puncak Gunung Argopuro menuju ke kawasan hutan konservasi dan kawasan hutan Perhutani serta kawasan Perkebunan PTPN XII Durjo, yang kemudian masuk ke Kali Klungkung sepanjang 14,4 km dan Kali Kemiri sepanjang 13,4 km yang selanjutnya bermuara ke Kali Jompo sepanjang 11,6 km, ungkapnya.
Luapan air tersebut menyusuri cekungan-cekungan aliran Kali Kemiri dan Kali Klungkung kemudian bermuara ke Kali Jompo dengan membawa material lumpur dan kayu-kayu yang mengarah sebagaian ke kebun dan pesawahan serta pemukiman, tambah Rukman.
Berdasarkan hasil identifikasi data berbasis citra, kata Rukman, tutupan lahan Perhutani pada petak petak tersebut masih cukup baik. Menurutnya dalam Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH) Bagian Hutan Lereng Yang Selatan periode 2017-2021 pada petak 74,59-63 terbagi sebagai Hutan Lindung seluas 4.704,4 ha dengan tanaman rimba alam seperti glintungan, sapen, bendo, apak, dan kopi yang tumbuh dibawah tegakan.
“Sedangkan hutan Produksinya seluas 168,7 ha bertumbuhan tanaman mahoni, micillia, dan tanaman Multi Purpose Tree Species (MPTS),” terangnya.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (PLMDH) Jawa Timur, Moh. Nurrohim saat dikonfirmasi dilokasi bekas banjir menyampaikan bahwa tegakan hutan pada wilayah Pangkuan Desa LMDH Anugerah Desa Klungkung Kecamatan Sukorambi petak 62 seluas 113 ha saat terjadinya banjir.
“Kondisinya sangat baik dan didominasi oleh hutan produksi jenis mahoni, sedang di hutan lindung lebih banyak tanaman jenis rimba campur, terangnya.
Nurrohim juga menjelaskan, bahwa tidak ada kegiatan tebangan dikawasan tersebut baik legal maupun ilegal, termasuk kawasan tersebut tidak ada bekas kebakaran hutan, Besarnya volume air di Kali Jombo memang disebabkan curah hujan yang tinggi di Gunung Argopuro,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, pada kunjungannya di Desa Klungkung Kecamatan Sukorambi, Gubernur Jawa Timur, Khofifah menjelaskan, banjir bandang yang disertai luapan air melebihi daya tampung sungai menandakan kerusakan sistem hidrologi pada hulu daerah aliran sungai.
“Pegunungan dalam bentuk kawasan hutan seharusnya tidak sampai mengalami kerusakan. Kemungkinan terjadinya illegal logging,” ujar Khofifah, Minggu, (2/2).
Selain pembalakan liar, Gubernur Khofifah juga melihat sebab kerusakan hutan karena kebakaran saat musim kemarau tahun 2019 lalu.
Sedikitnya, jelas Khofifah, terdapat 7 pegunungan di Jawa Timur yang mengalami kebakaran hebat, sehingga sebagian hutannya rusak. “Kawasan hutan dan pegunungan itu merupakan wilayah dalam naungan Perum Perhutani maupun PT Perkebunan Nusantara (Persero),” kata Khofifah.(gus)


