Surabaya – Minggu (12/7/2020) kemarin, belasan pewarta yang berasal dari berbagai media di Jawa Timur mengadakan kegiatan cangkruk rutin setiap Rabu malam di warung mbah Cokro Surabaya.
Topik yang menjadi bahan diskusi pada cangkruan kali ini adalah seputar etika profesi jurnalistik.
Ketua KJJT Ade Maulana memulai kegiatan cangrukan dengan sebuah tema yang berjudul “Ngaku Wartawan tapi ngak pernah nulis”.
Menurut Ade, menulis adalah tugas utama seorang pewarta, bukan yang lain. Seorang pewarta yang baik harus mampu menulis dengan baik dan terus mau belajar.
“Belakangan ini banyak jurnalis yang membanggakan pencapaian mereka namun sayang kebanggaan itu tidak terkait dengan tulisan mereka,” ungkap Ade.
Noor Arief pewarta senior sekaligus pengajar di sebuah perguruan tinggi di Surabaya juga menyampaikan hal yang senada.
Menurut Arief ada beberapa penyebab dari fenomena wartawan tak pernah nulis ini. Diantaranya adalah proses rekrutmen awal yang kurang selektif dari media lokal menjadi faktor utama.
“Media lokal sering salah di sini, tapi ini bisa diperbaiki,” ungkap Arief.
Arief menambahkan, niat atau motifasi pewarta menjadi faktor berikutnya. Tidak bisa menulis diawal harus dibarengi dengan niat yang kuat untuk melakukan penyeimbangan kemampuan diri.
Masih kata Arief, banyak wartawan yang tidak berproses dalam belajar menulis tapi diwaktu yang sama terus bergerak di lapangan menginvestigasi bersama rekan sejawat.
“Akhirnya muncullah wartawan-wartawan copy paste dari media lain dan menjadikan ID wartawan sebagai identitas tanpa ada penyeimbangan kemampuan,” ungkap Arief.
Di penghujung diskusi Arief menegaskan bahwa Inilah yang menjadi perhatiannya melalui KJJT.
“Melalui tulisan, seorang jurnalis akan dinilai. Melalui tulisan juga media lokal akan dikenal,” pungkas Arief. (Hen)
