Sebaran Zonasi Covid 19 Di Jawa Timur

0
14

 

SURABAYA — Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 di Jatim merinci enam kabupaten dan kota yang statusnya menjadi zona merah, dikutip dari data nasional pukul 16.00 WIB, Tanggal 10 September 2020.

Daerah yang menjadi zona merah penyebaran COVID-19 di Jatim tersebut antara lain Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Banyuwangi dan Kota Malang.

Sementara wilayah dengan tingkat risiko penularan virus sedang, ada di 26 kabupaten dan kota. Rinciannya, di Blitar, Bondowoso, Nganjuk, Lamongan, Jombang, Sumenep, Ponorogo, Magetan, Gresik, Kota Madiun, Tuban, Bojonegoro, Bangkalan, Kota Surabaya, Madiun, Kota Blitar, Kediri, Lumajang, Malang, Kota Kediri, Trenggalek, Jember, Kota Mojokerto, Kota Batu, Mojokerto dan Kota Probolinggo.

Sedangkan wilayah dengan zona kuning atau berisiko rendah dalam penyebaran COVID-19 ada di enam kabupaten dan kota. Seperti di Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Sampang, Situbondo, Pamekasan. Namun di Jatim tidak ada wilayah berstatus zona hijau atau zona yang tak berisiko dalam penyebaran virus Corona.

Penetapan status zona setiap wilayah ini berdasarkan 15 indikator dari pusat. Skor tertinggi dilihat dari tingkat kematian, lalu disusul data penurunan kasus dari puncak hingga jumlah pasien yang dirawat.

Melihat data ini, Pakar Epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr Windhu Purnomo, mengingatkan masyarakat agar penerapan protokol pencegahan COVID-19 tidak kendor. Karena, setiap wilayah masih memiliki risiko penularan.

Bahkan, Windhu menyebut zona oranye sebenarnya bukanlah zona yang cukup aman. Karena masih cukup besar penularan yang terjadi.

“Di dunia tidak ada zona oranye, yang ada cuma merah, kuning dan hijau. WHO cuma punya tiga itu. Kita nambahi oranye, tapi oranye itu sebenarnya ya merah. Merah yang agak terang, sebetulnya merah itu cuma merah yang agak muda,” kata Windhu.

Bahkan, Windhu menyebut zona kuning juga berarti masih berisiko adanya penularan. Untuk itu, masyarakat diimbau terus menggunakan masker, rajin mencuci tangan dan membatasi pergerakan ke luar rumah hingga menjaga jarak.

“Jadi sama saja, risikonya. Kan sampai kuning juga tetap berisiko, risiko rendah namanya. Berisiko rendah itu bukan tanpa risiko, cuma risikonya rendah tapi di luar masih banyak virus berkeliaran,” papar Windhu.

“Sampai kuning itu sebetulnya daerah yang tidak aman, itu prinsip. Jadi tidak main-main kemudian apa lagi jika masih oranye,” pungkasnya. (tim/red)