HomeJawa TimurMBAH CANGKLONG ( Sebuah Renungan)

MBAH CANGKLONG ( Sebuah Renungan)

Malam itu cuaca sangat cerah, hembusan angin lembut membuat udara agak dingin, tidak seperti sebelumnya udara cukup panas.

Mbah Cangklong duduk santai diteras depan seperti biasanya, sambil menikmati alunan lagu langgam jawa kesukaannya dari radio yang sudah usang.

Sementara suasana sekitarnya
nampak tak beda jauh dari hari hari sebelumnya walaupun hari Raya Idul Fitri, bukan saja karena himbauan dan pelarangan mudik juga penutupan tempat wisata oleh pemerintah saja, akan tetapi juga dampak Pandemi yang sarat dengan protokol kesehatan yang harus diterapkan, sedikit banyak sangat berdampak pada roda per-ekonomian masyarakat, bagi mereka bisa ikut merayakan datangnya Hari Raya Idul Fitri sudah amatlah bersyukur.

Advertisement

Kembali nampak mbah cangklong menghisap cangklong kebanggaannya, kali ini mbah cangklong menghisap agak dalam seolah ingin betul betul menikmati aroma tembakau idolanya itu.

Mbah cangklong merenungi sesuatu dimasa lalunya, dahulu semasa kanak kanak hinga remajanya Ia merasakan betapa indahnya menyongsong hari raya yang merupakan hari kemenangan.

Apalagi bila sampai pada hari raya ketupat, bukan main suka rianya pada masa itu, bersepeda dengan teman teman sebaya ke pantai bahkan mereka ada yang berkemah.

Namun kini tradisi itu seakan mulai lapuk apalagi dengan adanya Pandemi Corona 19 ini, sangat terasa sekali bagi masyarakat desa.

Jauh didalam lubuk hatinya, mbah cangklong merasa bersyukur karena sampai saat ini anak anaak dan cucunya
sudah mapan dan terjaga kesehatannya, begitupun dengan dirinya.

Dengan adanya Pandemi ini mbah cangklong merasa belajar banyak dari alam, Tuhan memberi pelajaran nyata akan siklus kehidupan hakiki.

Ketentuan Tuhan tidak
mungkin bisa direkayasa dengan kecanggihan ilmu pengetahuan manusia sehebat apapun.

Bagi mbah cangklong hidup ini hanya menjalankan apa yg sudah diberikan Sang Khalik, manusia hanya memelihara dan memanfaatkan, itupun seharusnya sebatas yang diperbolehkan.

Seakan yakin akan pemikirannya lalu mengambil kesimpulan sendiri, mbah cangklong merasa Rimo lan legowo marang kerana Gusti( sabar dan Ikhlas menerima kehendak Tuhan), adalah Kunci ketenteraman walau berhimpitan dengan carut – marutnya jaman.

Dan lebih jauh dalam hatinya mbah cangklong berkeyakinan Kesabaran dan ketabahan menerima semua gejolak alam adalah obat mujarab yang bisa menjadi obat dari segala wabah yang ada.

Adapun kebenarannya bagi orang lain, mbah cangklong mengembalikan pada pribadi masing masing, dirinya hanya ngugemi pesan para Tetua dahulu yen kepingin urip mulyo tansah kinayungan Raharjaning Gusti, kudu biso legowo narimo pepanduming Gusti(jika ingin hidup dalam kemuliaan dan selalu dalam lindungan ALLAH SWT, hendaknya ikhlas menerima kehendak Tuhan, dan selalu berusaha memenuhi jalan Tuhan. (Ag.Trimurty)

RELATED ARTICLES

Most Popular