Cimahi,Selasa(19/08/2025)
Istilah Panca Niti dan Panca Waluya saat ini sering diungkaokan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mendapatkan julukan KDM, Bapak Aing(Bapak Saya).
Dalam setiap pidato yang dilaksanakan di beberapa Kota/Kabupaten di Jawa Barat istilah Panca Niti sering diungkapkan, Bahkan Panca Waluya dijadikan Prgram kegiatan pelatihan bagi anak muda yang dididik untuk menjadi anak muda yang tangguh, mandiri, berakhlak dan beradab.
Panca Niti dan Panca Waluya berisikan ajaran yang didalamnya berisikan pikukuh atau tata aturan kearifan orang Sunda. Panca Niti dan Panca Waluya didalamnya terdapat butir-butir ajaran kebaikan,Cageur yang artinya sehat, Bageur yang artinya baik,Bener yang artinya benar,Pinter yang artinya pintar,Singer artinya Rajin.
Namun ada beberapa kata mutiara yang hilang karena dalam Sanga Gati (Sembilan Hal yang harus diperhatikan/dipedomani)bahwa Panca Waluya dan Panca Niti merupakan bagian dari Sanga Gati.
Sanga Gati merupakan kata-kata mutiara yang lebih lengkap dan melengkapi Panca Waluya dan Panca Niti.
Sanga Gati berisikan Kata-kata mutiara,Cageur yang artinya sehat,Bageur memiliki arti baik,Bener artinya benar,Pinter artinya Pintar, Singer artinya rajin,wanter artinya berani,Cangker artinya kuat,Teger artinya kukuh dan Pangger artinya Konsisten.
Sanga Gati merupakan pikukuh atau ajaran yang diwariskan di dalam kehidupan orang sunda.Panca Niti dan Panca Waluya merupakan bagian dari Sanga Gati.
Tahan yang paling tinggi adalah Sawelas Mutiara Kahirupan yang merupakan ajaran tertinggi dimana dari Sanga Gati ditambah dua kata mutiara yang melengkapi kesemuanya.
Sawelas Mutiara Kahirupan seringkali diungkapkan oleh Maestro Aksara Sunda Buhun(Kuno) yakni,Mang Ujang Laip atau Nama Lengkapnya Yudistira Purana Sakiakirti.
Sawelas Mutiara Kahirupan berisikan : Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, Wanter, Cangker, Teger, Pangger, Akur(rukun) dan Jujur(jujur/menyatakan yang sebenarnya.
Semua pikukuh(ajaran) yang dijelaskan merupakan kearifan Lokal orang Sunda yang saat ini sudah hampir punah dan tidak dikenali oleh generasi muda saat ini.
Semoga Panca Waluya, Panca Niti, Sanga Gati dan Sawelas Mutiara Kahirupan kembali dapat diimplementasikan dalam kehidupan keseharian orang Sunda khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Penulis sangat optimis dalam kepemimpinan Jawa Barat oleh Dedi Mulyadi (KDM atau Bapak Aing) semua Falsafah, Pikukuh dan aturan Kasundaan Akn Kembali hidup di Masyarakat Sunda Menuju Profesional seperti yang tersirat pada Naskah Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesian
“Tadaga Carita Hangsa
Gajendra Carita Banem
Matsanem Carita Sagarem
Pusvandem Carita Bangbarem”
Achmad Syafei
