SUMENEP – Penyuluh pertanian di Kabupaten Sumenep terus melakukan akselerasi penanaman padi di berbagai wilayah sebagai langkah strategis menuju swasembada pangan berkelanjutan tahun 2026.
Upaya ini dilakukan oleh penyuluh pertanian yang akan tergabung dalam Kementerian Pertanian pusat pada 1 Januari 2026. Fokus percepatan saat ini berada di beberapa wilayah seperti wilayah Dasuk, Batang-batang, Dungkek, dan wilayah lain yang memiliki potensi pengembangan areal tanam padi cukup besar.
Langkah percepatan ini menjadi bagian penting untuk mempertahankan capaian swasembada pangan yang telah diraih pada tahun 2025 sekaligus meningkatkan produksi pada tahun berikutnya. Para penyuluh pertanian merumuskan tiga strategi utama dalam mendorong peningkatan produksi padi di Sumenep.
Strategi pertama adalah peningkatan produktivitas padi melalui diseminasi varietas unggul baru. Penyuluh di setiap wilayah didorong untuk mengenalkan varietas-varietas padi seperti Inpari, varietas hibrida, Mapan, dan jenis unggul lainnya.
Varietas-varietas tersebut dinilai lebih adaptif dan memiliki potensi hasil lebih tinggi dibanding varietas lama yang produktivitasnya mulai menurun. Saat ini, produktivitas rata-rata padi di Sumenep berada di angka 5,9 ton per hektare. Dengan penggunaan varietas baru, ditargetkan produktivitas meningkat menjadi 6,5 ton per hektare.
Strategi kedua adalah peningkatan indeks pertanaman (IP). Para penyuluh mendorong petani untuk meningkatkan intensitas tanam.
Beberapa wilayah yang sebelumnya hanya menanam sekali setahun kini mulai mampu tanam dua kali, bahkan ada yang sudah mencapai tiga kali setahun. Target peningkatan indeks pertanaman pada 2026 adalah mencapai 30–40 persen, meningkat signifikan dari data 2025 yang baru mencapai 14 persen.
Strategi ketiga adalah perluasan areal tanam padi, terutama dengan memanfaatkan sumber air yang ada serta membuka lahan tanam baru. Pendekatan ini juga melibatkan sistem sisip tumpang sari pada area perkebunan di beberapa kecamatan.
Dengan indeks pertanaman 0 yang ditingkatkan menjadi 1 kali tanam dalam setahun, wilayah-wilayah seperti Dasuk, Batang-batang, dan Dungkek kini mulai menambah areal tanam padi melalui kombinasi pola tumpang sari dan pengelolaan air yang lebih optimal.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, turut memberikan apresiasi atas upaya tersebut. Ia menegaskan bahwa kerja para penyuluh pertanian di lapangan merupakan tulang punggung keberhasilan program prioritas pemerintah pusat, terutama dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi semangat para penyuluh pertanian. Itikad mereka dalam mempercepat penanaman padi serta mendorong peningkatan produksi adalah kontribusi nyata bagi keberhasilan program prioritas pemerintah pusat pada tahun 2026. Penyuluh adalah ujung tombak yang memastikan berbagai kebijakan dan inovasi pertanian bisa diterapkan langsung oleh petani,” ujar Chainur Rasyid.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara penyuluh, petani, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Dengan kerja terstruktur dan target peningkatan produksi yang jelas, Sumenep diharapkan memberikan sumbangsih signifikan bagi ketahanan pangan nasional.
“Upaya kolektif ini diharapkan tidak hanya mempertahankan capaian swasembada pangan tahun 2025, tetapi juga mendorong peningkatan volume produksi beras di tahun berikutnya. Dengan dukungan teknologi, varietas unggul, serta peran aktif penyuluh dan petani di lapangan, Kabupaten Sumenep menargetkan kontribusi nyata terhadap swasembada pangan berkelanjutan nasional pada tahun 2026,” tukasnya. **
