
Panasnya Berebut Tahta Raja di Solo: Konflik Keraton Surakarta Memanas
SOLO – Konflik perebutan tahta raja di Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah, kembali memanas. Dua kubu yang saling mengklaim sebagai raja yang sah, yaitu PB XIV Purbaya dan PB XIV Mangkubumi, terus berseteru.
Konflik ini berawal dari wafatnya Susuhunan Pakubuwono XII pada Juni 2004 tanpa menunjuk permaisuri atau putra mahkota. Dua anak Sinuhun, Hangabehi dan Tedjowulan, saling mengklaim sebagai pemangku tahta yang sah.
Pada 23 Desember 2022, keraton diserang oleh puluhan orang tak dikenal yang menyerang abdi dalem dan beberapa anggota keluarga keraton. Peristiwa ini memicu ketegangan yang lebih tinggi antara kedua kubu.
Namun, pada 5 Januari 2023, Wali Kota Gibran Rakabuming Raka mengumpulkan pihak-pihak keraton yang sempat bertikai, dan menghasilkan kesepakatan perdamaian.
Dua Kubu, Dua Raja. PB XIV Purbaya. Kubu ini dipimpin oleh KGPH Purbaya, yang diangkat sebagai raja oleh Lembaga Dewan Adat Keraton.
Kubu PB XIV Mangkubumi. Kubu ini dipimpin oleh GPH Mangkubumi, yang diangkat sebagai raja oleh kubu lainnya.
Kapolresta Solo, Kombes Pol. Rudi Setiawan, turun tangan untuk menenangkan situasi. Ia meminta kedua kubu untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan menunggu keputusan resmi dari pemerintah.
“Kami akan menjaga keamanan dan ketertiban di Solo. Kami meminta masyarakat untuk tidak terpancing oleh isu-isu yang dapat memicu kerusuhan,” kata Kombes Pol. Rudi Setiawan.
Konflik ini masih berlanjut hingga saat ini, dengan kedua kubu yang saling mengklaim sebagai raja yang sah. Masyarakat Solo dan Indonesia masih menantikan penyelesaian konflik ini. ***










