HomeJawa TimurSebuah Catatan Yang Tertinggal di Kampung Bebekan

Sebuah Catatan Yang Tertinggal di Kampung Bebekan

Gempurnews.com
BEBEKAN 2009
Sebuah ungkapan yang tertulis diatas kertas usang :
Gusar tak bertepi.
Kini aku sendiri lagi.
Keluh kesahku kian tertindih.

Januari di kampung Bebekan…..
Orang bilang aku, cantik, sexy. Tapi juga bodoh karena terjerumus dalam kegelapan dunia.

Sudah setahun aku disini, di lokalisasi kampung Bebekan. Pekerjaanku Menunggu tamu. Memamerkan tubh pada para penikmat kepuasan.

Advertisement

Aku nakal, begitu banyak orang mengucap kata kepadaku. Jijik, itulah perasaan wanita – wanita suci terhadapku. Balutan gaun indah, menutup tubuh, yang akhirnya akan terhempas juga demi pundi – pundi rupiah yang hendak kuraih.

“pelacur… apa sih bisanya selain jual tubuh, udah pasti neraka menjadi jaminan baginya” kata ibu – ibu komplek, saat melihatku berjalan tertunduk. Rasanya mukaku begitu tebal.

Mereka terlalu suci untuk berdekatan denganku, mereka bahkan lebih suci dariapada sang pemberi Kehidupan. Sebelum kematianku pun mereka sudah mengirimku ke neraka.

“kenapa kau begitu bodoh, tak adakah pekerjaan yang lebih baik yang bisa kau dapatkan?” seorang sahabat menegurku. Seakan ia tidak mengerti bahwa akupun tak mau hidup seperti ini, wanita mana yang mau menjadi mainan pria? Tidak, Tidak ada. Aku hanya menyambung hidup, adikku butuh makan, sekolah, apakah mereka mau menanggungnya. Bukannya tidak ada pekerjaan lain, tapi bukankah setiap pria yang melihatku, tidak akan memikirkan apapun selain tubuhku?

“sudah berapa janin yang kau buang?” aku tertawa datar, mendengar pertanyaan konyol itu. Wanita ini jauh lebih suci daripada yang lain, seakan ia berpikir aku bisa hidup tanpa seorang anak. Seakan ia tidak merasakan kesepianku yang dibunuh sang waktu.

“kau bahagia?” haruskah aku menjawab pertanyaan ini, bukankah tidak begitu penting aku bahagia atau tidak, yang jelas mereka selalu melihat senyumanku, menggoda, dan menjamah tubuh mereka dengan benci tiada tara.

Hidupku sudah berhenti disini, tapi bukanlah masa depanku masih ada disana. Aku belum mati, aku masih harus melanjutkan kehidupan, apa yang kulakukan biar aku yang menanggungnya. Cukup sudah kalian menghinaku, urusan dosa, urus saja dosa kalian sendiri. Ambil cerminmu, berkacalah, sudah seputih apa masa – masa yang kau lalui?.

Kini, tempat itu luluh lantak di terjang buldozer. Pemkab melarang berbuat maksiat diatas tanah milik negara.
DINA.

RELATED ARTICLES

Most Popular