Home Blog Page 1786

Ngaku Anggota Banpol, Rampas Kartu Tanda Anggota LIN Secara Arogan

PASURUAN – Kamis, 23 April 2021, salah seorang anggota Organisasi Kemasyarakatan Lembaga  Investigasi Negara (LIN), Huda, yang saat itu mendampingi salah satu keluarga untuk memenuhi panggilan Lurah Kauman Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan terkait permasalahan hutang piutang, mengalami kejadian yang tidak menyenangkan oleh seseorang yang mengaku sebagai anggota Banpol Polsek Bangil.

Dalam pertemuan itu, selain Huda dan keluarga yang didampingi, hadir juga Bhabinkamtibmas, Babinsa, Lurah serta pengurus RT dan RW.

Saat mediasi yang terkait permasalahan tersebut berlangsung hampir usai, tiba-tiba seorang oknum dengan inisial, E alias Oyek, yang mengaku anggota Banpol Polsek Bangil, dengan gaya arogannya memanggil Huda, kendati dalam pertemuan itu ada anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Huda, yang merupakan anggota Lembaga Investigasi Negara (LIN) lantas digiring ke ruangan tertutup yang berada di kelurahan Kauman oleh Oyek dan dipertemukan dengan Budi, selaku Bhabinkamtibmas, Babinsa serta Lurah.

Tak berhenti sampai disitu, arogansi Oyek masih berlanjut hingga di dalam ruangan. Oyek mengajukan berbagai pertanyaan pada Huda, ibarat penyidik terkait posisinya dalam masalah tersebut, meskipun ada bhabinkamtibmas di ruangan itu pula.

Selain ‘menginterogasi’, Oyek juga memotret dan menyuruh dirinya untuk menunjukkan id card atau kartu tanda keanggotaan LIN sebelum akhirnya merampas kartu keanggotaan Huda.

Dari kejadian Huda yang merasa dilecehkan dan dipermalukan di muka umum lantae melaporkan ke dewan pimpinan pusat Lembaga Investigasi Negara.

Kejadian tersebut langsung direspon oleh Dewan Pimpinan Pusat serta Dewan Pimpinan Daerah LIN dan juga beberapa wartawan.

Menurut pengakuan salah seorang anggota Polsek yang sedang piket waktu itu, ternyata nama Oyek tidak ada lagi sejak 2 tahun lalu, dalam daftar Banpol Polsek Bangil.

Terkait pemotretan dan pemeriksaan kartu tanda keanggotaan ormas, dia menjelaskan, hal tersebut memang menjadi standar Polri dalam rangka identifikasi.

“Pemeriksaan dan pemotretan yang dilakukan oleh bhabinkamtibmas merupakan standar operasional Polisi guna mengidentifikasi personal,” tegasnya.

Mendapat jawaban tersebut, Huda mempertanyakan peran Oyek yang turut memanggil dan merampas kartu keanggotaan Huda di LIN.

Masih menurut sumber tadi, ditegaskan lagi jika Oyek hanya memiliki hubungan baik dengan anggota Polsek Bangil.

“Kalau perlakuan Oyek yang dianggap tidak menyenangkan ini mau diproses, kita ewuh pakewuh (merasa minder-dalam KBBI),” tukasnya.

Sementara itu, Budi, selaku bhabinkamtibmas menyatakan bahwa Oyek juga tidak seharusnya merampas kartu keanggotaan Huda di LIN karena dia tidak memiliki kewenangan untuk melakukan hal tersebut.

Namun, Budi mengakui jika dirinya yang menerima kartu keanggotaan LIN milik Huda dari Oyek untuk dikembalikan.

“Kartu anggotanya sudah saya kembalikan pada yang bersangkutan. Kita juga siap mempertemukan antara Oyek dengan Huda agar mendapatkan solusi atas permasalahan perampasan id card ini,” ungkap Budi. (tim)

FILOSOFI MBAH CANGKLONG

Oleh: Agus Harimurti

Diujung sebuah desa yang masih kaya akan lahan pertanian, tumbuh subur tanaman padi yang mulai menguning, merupakan harapan penghuninya.

Disana hidup seorang yang sudah renta, akan tetapi memiliki potensi diri tentang filosofi hidup.

Lelaki berbadan kurus usia lanjut itu sehari – hari tak pernah lepas pakaian kebesaraanya, memakai baju sejenis Beskap kuno khas jawa lengkap dengan udeng blebet atau sering disebut sebagai sorban jawa.

Setiap pagi selepas sholat subuh, Beliau selalu duduk santai diteras depan rumahnya dengan Uboh Rampe Wedhang Gigit ( kopi pait dan gula jawa iris ) dan Ubi rebus, lengkap dengan seperangkat tembakau kesayangannya.

Dan yang menjadi Ciri khasnya adalah kebiasaanya merokok dengan menggunakan pipa cangklong yang konon warisan dari kakeknya yang sudah meninggal jaman pendudukan Jepang.

Karena Kebiasaan itu, orang – orang sekitar menjuluki Mbah Samiaji Sukarto dengan julukan Mbah Cangklong, karena tak pernah lepas dari Pipa Cangklongnya.

Sore itu Mbah Cangklong tengah menikmati suasana senja yang sejuk, setelah sepanjang panjang siang bumi asih diguyur hujan lumayan lebat.

Dari sudut jalan nampak Joko sawi, berjalan mendekat ke arah Mbah Cangklong, setelah dipersilahkan duduk, Jokopun mulai membuka Obrolan dengan Mbahe.

“ Mbah, apa masih sehat aja “ begitu kata pembuka joko.

Setelah menghisap dalam – dalam cangklongnya Mbah cangklong menjawab

” Yo, ko. Alhamadulillah masih seger waras, kok njanur gunung( tumben ) kamu mampir sore – sore begini, dari mana barusan “.

“ Amin kalau Mbah selalu Sehat. Nggih Mbah kebetulan tadi saya dari rumah kang Sawit dan kebetulan melihat Mbah duduk – duduk disini, jadi ya sekalian mampir gitu mbah”. Jawab Joko.

Kembali Mbah Cangklong menghisap dalam cangklongnya. Lalu sambil mengambil sepotong Ubi didepannya, Mbah menawari joko pula.

“ ayo, ko sambil makan ubi rebus dan kopi gigit ini biar ngobrolnya lebih gayeng” Mbah Cangklong sambil mendekatkan makanan kesukaannya ke hadapan Joko.

“ Mbah, apa boleh saya bertanya sedikit” tanya joko disela – sela menikmati wedhang gigit dan Ubi rebus.

Sayangnya Joko bukan perokok seperti halnya Mbah Cangklong.

“ mau tanya apa kamu,ko?” tanya Mbah Cangklong kemudian.

“ ya mbah, saya pingin tahu tentang perjalanan hidup.”

Seketika Mbah Cangklong tertawa terkekeh – kekeh mendengar pertanyaan anak muda tersebut.

“ he…he..ko…ko..pertanyaanmu itu kok ya terlalu dalam, apa kamu mau jadi budayawan,he..?”.

Walau sedikit agak malu, jokopun mengomentari ucapan Mbah Cangklong.

Mbah Cangklong memang banyak pengalaman dan paham pakem – pakem jawa kuno dan banyak warga sekitar berkunjung untuk mendengarkan cerita Mbah Cangklong, disamping itu Mbah Cangklong selain dikenal pendiam, juga dikenal sebagai orang tuanya yang arif, murah hati dan kata dan ucapannya banyak mengandung petuah – petuah, juga penampilannya yang agak Kuno dan Tutur kata yang lembut dan berwibawa, tergambar tentang kedalaman pemikiran Mbah Cangklong.

Setelah menghela nafas panjang, kembali Mbah Cangklong Berkata,
“ gini loh, ko, hal itu bisa dibilang sederhana tetapi juga Rumit, karena itu berkenaan dengan pandangan Hidup, masing – masing orang itu kan beda – beda pendapat dan pemahamannya.

Perjalanan hidup itu membawa banyak pemahaman yang sangat dalam, karena itu sedikit banyak mencoba menggali Karya ILLAHI yang Maha Karya ini, aku sendiri yo tidak terlalu banyak memahami, begitulah gambaran Mbah Cangklong yang Arif dan bijak.

Walau banyak paham tentang filosofi jawa Kuno namun tetap rendah hati sekalipun dihadapan orang yang lebih muda.

Joko Sawi mendengar itu dengan Takzim dan berhara – harap Mbah Cangklong berkenan memberi pencerahan kepadanya.

” Ya, Mbah, saya mengerti. Saya benar – benar ingin pencerahan ini karena saya tahu Mbah bisa memberi yang terbaik, dan harapan saya bisa menjadi panutan sekaligus koreksi bagi saya pribadi.” Ujar Joko Sawi

Kemudian, setelah beberapa kali menghisap Cangklongnya, Mbah Cangklong menyeruput wedhang gigit yang tersisa, lalu mulai Mbah Cangklong bertutur dengan lembut dan sedikit hati – hati dalam bertutur.

Perjalanan tak lain adalah pergeseran atau perpindahan sesuatu hal ke arah atau tempat lain, hidup dimaknai sebagai proses perputaran ekosistim Karya Illahi yang mutlak dan sangat Rahasia.

Jadi bisa dikatakan mengetahui perjalanan hidup, tak ubahnya mencoba menyelami dan mencari rahasia Hyang Maha Kuasa, sebagaimana yang sudah dipaparkan para Kaum tua , Alim , dan Ulama bahwa hidup , mati dan jodoh itu adalah takdir Illahi yang artinya hanya Allah yang Maha Kuasa yang Punya Ketentuan Mutlak.

Dimana tak satupun Insan didunia yang mampu mengubahnya.
kalau boleh di sederhanakan, perjalanan hidup itu seperti perjalanan matahari, dari awal terbit sampai pada tenggelamnya di ufuk barat, awal kelahiran anak manusia di ibaratkan awal terbitnya matahari di padi hari, siapapun akan menyambut dengan kegembiraan hangatnya sinar mentari pagi yang sinarnya penuh kehangatan dan keceriaan dan sekaligus mampu menggugah semua orang untuk memulai berkarya atau memulai aktivitas sehari – hari.

Dan ketika Matahari sudah pada puncaknya di siang hari, panas mulai menyengat bahkan menggigit, dalam wejangan Kuno, pada saat panas matahari membakar bumi, semua yang ada dimuka bumi inipun akan terdampak baik fisik maupun psikologis, ada juga yang berpendapat bahwa pada siang hari diumpamakan sebagai masa uji alam fikir atau saat – saat menentukan pilihan yang akan menentukan perjalanan berikutnya.

Disini di Ibaratkan perjalanan anak manusia sudah sampai pada masa akil balik, dimana Ia harus sudah bisa memilih dan memilah akan apa- apa yang harus dilakukan dan mempertimbangkan sebab akibat tentang perbuatan dan perilaku yang telah dipilih.

Kita mengumpamakan saat itu adalah masa kita sampai pada suatu persimpangan atau perempatan jalan, digambarkan ketika Kita sampai pada Perempatan jalan, maka Kita harus betul – betul bijak dan pandai memilih sebelum melangkah, Urai Mbah Cangklong panjang lebar.

Setelah kembali menyalakan cangklong untuk kedua kalinya, lalu menghisap dalam – dalam sekaligus menghembuskan kepulan asap layaknya Lokomotif, kembali Mbah Cangklong melanjutkan Ceritanya.

Sebagaimana perjalanan Matahari dari terbitnya sampai dengan saat tenggelam di ufuk barat, artinya perjalanan hidup kita Ibarat perjalanan matahari, proses dari lahir sampai dengan kembali kepangkuan Illahi, Kalau masa balita sampai dengan usia akil baliq di ibaratkan perjalanan matahari dari terbit sampai dengan saat puncaknya pada tengah hari, maka usia remaja tak ubahnya situasi disiang hari yang panas penuh dengan banyak kendala – kendala yang harus diperhitungkan langkah – langkah dalam bertindak.

Kita mengibaratkan masa itu adalah masa dimana kita sampai pada suatu perempatan jalan, kita datang dari arah timur ( matahari terbit ) dan tujuan akhirnya adalah Ufuk barat ( matahari terbenam ).

Hal itu gambaran perjalan dari lahir sampai dengan usia senja atau tutup usia, dan kini tiba pada persimpangan yang akan menjadi aral atau masa ujian yang berat, karena harus pandai dan cermat memilih dan memilah apa yang harus dilakukan agar sampai pada tujuan dengan baik dan benar.

Kembali Mbah Cangklong Menghisap cangklongnya, sambil sesekali menghela nafas, sementara itu joko Sawi tetap menyimak dengan tekun dengan sedikit mencoba mencerna apa yang telah dipaparkan Mbah Cangklong.

Pria pua pensiunan masinis kereta api itu memang dikenal arif dan lembut tutur katanya, yang membuat orang lain teduh mendengarnya.

Mbah Cangklong juga salah satu penggemar wayang purwo atau wayang kulit yang memang sarat filosofi.

Kembali Mbah Cangklong bertutur menjelasakan lebih lanjut, Nah, disini hendaklah kita harus hati – hati melangkah, walaupun sudah jelas arah yang akan kita tuju, adalah hal yang terpenting untuk mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Paling tidak kita harus paham membaca rambu – rambu yang ada, dan harus paham akan kemampuan kita sendiri untuk menyeberangi perempatan itu.

Jika akan melangkah ke arah barat, hendaknya memeperhatikan arah lainnya, sari arah selatan atau utara bukan tidak mungkin akan ada sesuatu hal yang menjadi penghalang dan mungkin juga merupakan hal yang bisa merugikan diri kita.

Mbah Cangklong mengibaratkan, tujuan kita melangkah dari timur kebarat, adalah perumpamaan lahir dari kebaikan dan kebenaran harus kembali kepada kebaikan akhir, yang artinya kembali ke titik akhir dengan sedikit tergores, robek, kumal atau lusuh, itu adalah hal yang wajar setelah melewati beberapa rintangan diperjalanan.( Medio Bulan Suci)

Bidang Humas Polda Jatim Siap Wujudkan WBK dan WBBM Satker di Polda Jatim

SURABAYA,- Pencanangan pembangunan zona integritas menuju WBK (Wilayah Bebas Korupsi) dan WBBM (Wilayah Birokraei Bersih Melayani) Satuan Kerja (Satker) Bidang Humas Polda Jatim serta 12 Satker yang lain di Polda Jatim.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Gatot Repli Handoko,dalam sambutannya menyebutkan bahwa hari ini serentak satker – satker lain melakukan zona integritas.

“Dengan pembangunan zona integritas ini untuk mendukung pemerintah mewujudkan Good Goverment dalam mewujudkan pemerintah yang bersih dari KKN sebagai wujud perbaikan pelayanan publik,” jelas Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Jumat (23/4/21).

Diharapkan di tahun 2021 ini ada tambahan 20 Satker Polda Jatim mendapatkan Predikat WBK dari Menpan RB.

Untuk diketahui tahun 2020 lalu, Satker dan Satwil Polda Jatim sudah mendapatkan predikat WBK sebanyak 15 Satker,14 kewilayahan dan satu Direktorat Lalu Lintas.

Agar pembangunan zona integritas dapat berhasil dengan baik, maka perlu mempedomani beberapa hal diantaranya, melakukan tata kelola yang baik pada enam perubahan satker.

Managemen perubahan, managemen laksana, managemen SDM, penguatan akuntabilitas, penguatan pengawasan, penguatan pengawasan dan penguatan kuwalitas layanan publik.

“Terus kembangkan inovasi yang berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pelayanan dan penyelesaian permasalahan baik internal maupun kepada masyarakat yang ada di lingkup satker,”tutur Kombes Gatot.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur ini memberikan apresiasi atas komitmen upaya dan jerih payah para Kasubid bersama anggota dalam membangun kinerja institusinya kearah tujuan yang diingnkan pemerintah.

“Mari kita gelorakan semangat meningkatkan pengabdian melalui tata kelola organisasi yang efektif dan efisien, dengan terus berkomitmen untuk berinovasi melayani masyarakat, terutama dalam upaya penanggulangan pemyebaran Covid-19,” pungkas Kombes Gatot.

Sementara itu Kepala Kominfo Provinsi Jawa Timur menyampaikan, kominfo sudah menjadi mitra di bidang humas dari dulu.

“Kami mengapresiasi keinginan bapak Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko, yang menginginkan bahwa Bidang Humas ini menjadi salah satu satker yang mewujudkan zona integritas,”

Pihaknya juga mendukung upaya – upaya Bidang Humas untuk mewujudkan WBK dan WBBM. (*)

Pendamping BPNT Tongas, Tanggapi Dingin Keluhan Warga Tentang Jeleknya Mutu Beras

PROBOLINGGO — Warga penerima bantuan pangan yang disalurkan melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), banyak mengeluhkan mutu beras yang diterimanya melalui agen.

Warna beras kecoklatan, berbau, remuk dan ada kutunya, Ungkap Sundoko Hamzah, warga dusun Sumuran Desa Tanjungrejo kecamatan Tongas,( 23/4)2021).

Diungkapkan, jika penerima bantuan yang rata rata masuk keluarga prasejahtera ini mengaku kecewa dengan mutu beras yang sangat jelek dan tidak layak untuk dikonsumsi.

Sundoko menunjukkan beras bantuan dan bungkus berupa glangsi yang disablon Bulog Probolinggo dengan tercantum Harga Eceran Tertinggi(HET) sebesar Rp. 9450,- perkilonya.

Dari beberapa keterangan keluarga penerima manfaat ( KPM ), dalam penyaluran bulan maret dan april memang berasnya agak hitam, hancur dan ada kutunya sehingga oleh warga beras tersebut hanya disimpan tidak dimasak.

Sangat di sayangkan, disaat warga masyarakat sangat kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari, akan tetapi masih seringkali terjadi orang yang kurang bertanggungjawab, dan tanpa ada perhatian dari pihak dinas terkait atau tim untuk mengecek ke agen sebagai penyalur.

Menurut koordinator daerah (KORDA), ILMI, jika warga atau KPM oenerima bantuan mendapatkan beras yang tidak layak, bisa langsung mengadukan ke tim yang ada di kecamatan dulu sebelum melaporkan ke dinas sosial.

Hal itu disampaikan melalui sambungan washap, atas keluhan warga masyarakat tentang jeleknya mutu beras yang diterima melalui program BPNT.

Keluhan masyarakat atau KPM silahkan laporkan ke tim kecamatan dulu baru ke dinas sosial, terangnya.

Sementara Imam selaku TKSK Tongas ketika dikonfirmasi melalui sambungan telpon Whatsapp, menyanggupi akan menindaklanjuti masalah ini dengan melakukan kordinasi dengan Bulog selaku penyedia beras, dan meminta kepada wartawan untuk menunjukkan bukti beras yang dianggap jelek mutunya.

Gempurnews terus melakukan investigasi dilapangan, Sampai berita ini diturunkan, kepala Bulog Probolinggo belum berhasil dihubungi. (Ali/bersambung)

Unit Reskrim Polsek Purworejo Amankan Dua Orang Atas Perkara Senjata Tajam

PASURUAN – Rus (22) warga Dusun Tawangsari RT 01 RW 02 Desa Kalirejo Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dan Nah (17) yang beralamat di Jl. MT. hariyono Gg 12 RT 03 RW 02 Kel.Mandaranrejo Kota Pasuruan diamankan Polsek Purworejo atas perkara membawa, memiliki, dan menyimpan senjata tajam jenis clurit tanpa ijin.

Pengamanan kedua orang tersebut berkat laporan dari warga Ngemplakrejo terkait informasi adanya seseorang yang mencari warga Ngemplakrejo dengan membawa senjata tajam pada Kamis, 22 April 2021, malam di Jl. Hang Tuah RT 02 RW 04 Kel. Ngemplak Rejo Kec. Panggungrejo Kota Pasuruan.

Mendapat laporan tersebut, petugas polsek Purworejo pun segera melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan kedua pelaku yang masing masing kedapatan membawa senjata tajam.

Berdasarkan keterangan pelaku dan saksi bahwa pada malam itu, sekitar jam 21.00 wib, Rus menghampiri Holili sembari langsung menekan lehernya. Tak hanya itu, Rus juga meminta hanpdhone Holili.

Mendapat perlakuan tersebut, Holili pun melakukan perlawanan sehingga terjadi pertengkaran.

Setelah bertengkar, Rus pulang kerumahnya untuk mengambil clurit.

Ditengah perjalanannya, Rus yang ingin menemui kembali Holili, bertemu dengan Nah, yang kebetulan melintas.

Lantas Nah diajak untuk mencari Holili sembari menenteng cluritnya, namun tidak ketemu.

Warga yang mengetahui peristiwa itu pun resah dan melapor ke Polsek Purworejo.

Dari catatan petugas, Rusternyata diketahui pernah melakukan beberapa kali tindak pidana diantaranya, pada tahun 2017 pernah melakukan penganiayaan dengan senjata tajam dan telah menjalani hukuman selama 10 bulan.

Pada 2019 lalu, Rus juga pernah melakukan jambret hp dan telah menjalani hukuman selama 1 tahun.

Terakhir, pada awal April 2021, Rus telah melakukan penganiayaan dengan senjata tajam, namun telah di mediasi secara kekeluargaan. (tofa)

Guru SMP Asal Malang Perakit Senpi Ilegal Berhasil Diamankan Polisi

SURABAYA – Seorang pria perakit senjata api (senpi) ilegal asal Malang, ditangkap Polisi. Tiga pucuk senpi hasil rakitannya dan puluhan amunisi turut disita sebagai barang bukti.

Tersangka berinisial AR (23) warga Kecamatan Gondang Legi, Kabupaten Malang diamankan lantaran terbukti sebagai perakit senpi ilegal.

Dari tangan pelaku, Polisi berhasil mengamankan tiga pucuk senjata api rakitan jenis Revolver, Baikal, laras panjang reminten kaliber 5,56 mm.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko, didampingi Wadirkrimum AKBP Nasrun Pasaribu dan Kasubdit III Jatanras AKBP Lintar Mahardhono mengatakan  tersangka diketahui mulai merakit senpi sejak Februari 2021 lalu. Dalam rentang waktu tersebut, 7 pucuk senjata sudah berhasil dirakitnya.

“Tersangka melakukan kegiatan tersebut sejak Februari 2021 sampai ditangkap dan sudah dapat merakit senjata api sebanyak 7 pucuk senjata,” kata Kabid Humas kepada wartawan, Jumat (23/4/2021).

Kabid Humas Polda Jatim menambahkan, hasil pistol atau senjata rakitan tersangka jual dengan harga bervariasi sesuai pesanan, harganya berkisar antara Rp 3,5 juta hingga Rp 6,5 juta.

Dalam mengerjakan senpi rakitan, tersangka selalu memakai alat-alat perbengkelan diantaranya grinda, alat bubut dan alat las, sedangkan profesi sehari-seharinya adalah guru swasta.

“Tersangka selalu mengunakan bermacam-macam peralatan bengkel. Profesinya ini sehari-hari guru SMP,” terang Kabid Humas Polda Jatim.

Atas perbuatannya itu, tersangka kini dijerat dengan Pasal 1 UU Darurat No. 12 Tahun 1951 terkait merakit atau membuat dan atau menguasai senjata api secara illegal. Adapun ancaman hukuman maksimalnya adalah 20 tahun penjara.

“Kami kenakan UU Darurat. Ancaman hukumannya yakni maksimal 20 tahun penjara,” pungkas Kombes Pol Gatot Repli Handoko. (*)

Patroli Jelang Sahur Polsek Sukodono Amankan Sound System Keliling

LUMAJANG-Agar terciptanya situasi bulan suci Ramadhan yang aman, nyaman dan kondusif, petugas Patroli Polsek Sukodono, Polres Lumajang melaksanakan patroli menjelang sahur.

Sasaran dalam patroli dilakukan petugas Polsek Sukodono ini dilakukan dilokasi rawan kegiatan balap liar dan soud system keliling wilayah hukum Polsek Sukodono, Jumat (23/4/2021) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

Kapolsek Sukodono AKP Edi Santoso melalui Paur Subbag Humas Polres Lumajang Ipda Andrias Shinta, petugas Polsek sukodono melaksanakan patroli untuk mengantisipasi adanya balap liar, dan sound sytem keliling.

“Petugas melakukan patroli di 4 desa yang rawan kegiatan balap liar, dan sound system keliling diantaranya Desa Dawuhan Lor, Kebonagung, Karangsari, dan Desa Klanting,” kata Shinta.

Namun saat melaksanakan patroli mendapati seorang pemuda yang melaksanakan ronda sahur menggunakan sound system keliling yang berlebihan di jalan Desa Karangsari menuju Desa Kebonagung.

“Anggota menemukan mobil pick up yang membawa sound system dengan membunyikan musik cukup keras yang sangat mengganggu masyarakat, pengemudi warga Desa Klanting” ujar Ipda Andrias Shinta.

Kemudian mobil pick up yang membawa sound system ini dibawa ke Polsek Sukodono, mereka diberikan pengarahan oleh petugas agar tidak menggunakan sound system yang suaranya terlalu keras yang dapat mengganggu masyarakat.

“Mereka diberikan pengarahan dan pembinaan kepada pemilik sound dengan membuat pernyataan agar tidak mengulangi lagi kegiatan tersebut,” jelas Paur Subbag Humas.

Pemilik Sound berjanji melalui surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi kegiatannya, apabila ditemukan lagi oleh petugas kendaraan berikut sound systemnya akan diamankan di Kantor Kepolisian

Dilokasi rawan balap liar dikatakan Ipda Andrias Shinta, petugas saat melaksanakan patroli membunyikan sirene dan menyalakan rotator.

“Dilokasi yang dilaksanakan patroli tidak ditemukan adanya kegiatan balap liar,” pungkasnya. (tim)

Aset Budaya Terabaikan, Wayang Krucil Terancam Punah

LUMAJANG – Mendengar nama kesenian wayang, mungkin secara umum pikiran masyarakat akan langsung tertuju kepada kesenian wayang kulit, wayang golek, atau wayang orang. Namun, sebagian masyarakat mungkin belum mengetahui bahwa masih ada satu lagi jenis kesenian wayang, yakni kesenian Wayang Krucil.

Wayang Krucil merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang menggunakan wayang berukuran kecil, terbuat dari kayu pipih (waru, pinus, atau mentaos) dengan tangan terbuat dari kulit sehingga mudah digerak-gerakkan oleh dalang.

Seorang pengrajin Wayang Krucil di Desa Sidorejo Kecamatan Rowokangkung di Kabupaten Lumajang, Soeparno Padmowardoyo (89), mengatakan bahwa penamaan wayang krucil ini dikarenakan ukurannya yang lebih kecil dibandingkan wayang kulit, hanya sekitar 30 cm.

Dituturkanya, kesenian Wayang Krucil yang dijalaninya mengalami masa kejayaan di tahun 90an, dan di masa itu dirinya sering manggung hingga keluar kota, seperti di Kota Surabaya maupun di beberapa kota lainnya di Jawa Timur.

Keahlian mendalang tersebut, diwarisi dari mendiang orang tuanya yang juga seorang dalang dari Kabupaten Blitar, dan dirinya bisa memainkan kesenian Wayang Kulit dan Wayang Krucil. Perbedaannya adalah Wayang Kulit bercerita tentang cerita pewayangan, sedangkan Wayang Krucil umumnya bercerita tentang petunjuk hidup dan kisah nabi yang berasal dari Al Quran.

Menurut Soeparno, dalam beberapa tahun terakhir pertunjukan kesenian Wayang Krucil jarang ditemui, kemudian jumlah pengrajin Wayang Krucil juga mulai terbatas karena banyak yang beralih profesi dan tidak ada penerus yang melanjutkan.

Selain itu, dikatakannya, bahwa saat masa kejayaannya dulu, dirinya mempekerjakan sekitar 15 orang karyawan untuk membuat kerajinan Wayang Krucil, karena banjir akan adanya pesanan yang datang dari area Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan.

Bahkan, ada juga pesanan dari manca negara. Kemudian, lambat laun kejayaan tersebut mulai meredup ketika terjadinya peristiwa bom Bali 1 dan 2, dan hal itu sangat mempengaruhi jumlah pemesanan, tertutama dari manca negara karena jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali saat itu mengalami penurunan yang sangat drastis, sehingga saat ini sudah tidak lagi memproduksi kerajinan Wayang Krucil.

“Sekarang tidak ada lagi generasi muda yang mau belajar membuat wayang krucil sebagai upaya melestarikan budaya. Sebenarnya, saya masih bersedia mengajari anak-anak muda untuk membuat wayang krucil, karena diusia lanjut seperti sekarang saya sudah tidak mampu lagi untuk memproduksinya,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Sidorejo Heru Subiyantoro mengatakan, bahwa kerajinan dan kesenian Wayang Krucil di Desa Sidorejo Kecamatan Rowokangkung Kabupaten Lumajang, Jawa Timur terancam punah, karena kesenian tersebut terkendala regenerasi untuk mempertahankan kreativitas yang sekaligus aset budaya.

“Di sini (Desa Sidorejo, red) regenerasinya hampir tidak ada. Untuk itu, kami Pemerintah Desa akan bersinergi dengan Pemerintah Daerah untuk memberi perhatian, memfasilitasi maupun memberikan pelatihan-pelatihan, sehingga kerajinan dan kesenian Wayang Krucil tidak sampai punah,” kata dia saat mengunjungi kediaman seorang pengrajin Wayang Krucil Mbah Soeparno Padmowardoyo, di Desa Sidorejo, Rabu (21/4/2021).

Menurutnya, kerajinan dan kesenian Wayang Krucil di Desa Sidorejo mulai berkurang karena banyak yang beralih profesi dan tidak ada penerus yang melanjutkan. Oleh karena itu, pihaknya akan berusaha menghidupkan kembali kerajinan dan kesenian wayang krucil tersebut melalui kegiatan karang taruna.

Lanjut dia, saat ini di Desa Sidorejo ada dalang cilik yang mempunyai potensi, namun ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Heru berharap potensi tersebut dapat mengembalikan kejayaan kesenian wayang di daerahnya, sekaligus melestarikan budaya.

Ia menambahkan, bahwa melalui kegiatan karang taruna yang mayoritas anggotanya adalah pemuda-pemudi desa, maka hal tersebut akan dapat menunjang upaya yang dilakukan untuk meyakinkan anak-anak muda sebagai generasi penerus untuk turut melestarikan kesenian Wayang Krucil.

“Untuk mendorong regenerasi itu, pemerintah juga memerlukan perhatian serius dari semua stakeholder, karena kelangsungan budaya kerajinan dan kesenian yang merupakan identitas bangsa harus diwariskan kepada anak cucu kita,” imbuh dia. (tim)

Guru Honorer Meminta Kemenag Berikan Soal Tes PPPK Tak Sulit

JAKARTA – Materi soal seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) pada Kementerian Agama dikenal sangat rumit, sehingga ratusan ribu guru agama honorer meminta Kemenag untuk memberikan butir soal yang lebih mudah.

Menurut Ketum Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAII) Mahnan Marbawi, permintaan tersebut karena selama ini soal-soal yang diberikan Kemenag terkenal rumit.

“Di kalangan guru sudah paham semua, kalau soal dari Kemenag itu sulit-sulit.” Kata dia, Kamis (22/4/2021). Dia pun meminta Kemenag memberikan ruang yang lebih rasional terkait butir soal PPPK agar tidak terlalu menyulitkan guru agama honorer.

“Bila butir soalnya rumit, akan berdampak pada jumlah guru agama yang lulus tes PPPK. Sebenarnya, kemampuan guru agama honorer ini sudah teruji kok. Mereka pengabdiannya bukan baru satu atau dua tahun saja.” Lanjut Mahnan.

Tidak hanya Mahnan Marbawi, keluhan akan sulitnya materi soal Kemenag juga disampaikan Koordinator daerah Perkumpulan Honorer K2 Indonesia (PHK2I) Pati, Sunandar, guru PAI ini yang pernah ikut tes PPPK 2019. Namun, dia tidak lulus passing grade untuk kompetensi teknis.

“Aduh kalau soal PPPK disusun Kemenag itu biasanya sulit. Saya jadi ragu bisa lulus,” katanya pesimistis.

Dia berharap Kemenag memberikan materi soal yang tidak menyulitkan guru-guru honorer. Sebab, sejatinya guru-guru honorer telah terbukti pengabdian dan kualitasnya.

“Saya kalau dites begini merasa menjadi bodoh sekali. Seleksi PPPK nanti Agustus tetapi saya sudah gugup dari sekarang,” keluhnya.

Sunandar dihantui ketakutan akan gagal dan kemudian dilengserkan pemerintah. Lantaran dalam PP Manajemen PPPK ada tenggat waktu untuk honorer sampai 2023.

“Apa saya harus jadi pencari kayu bakar dan meninggalkan sekolah yang didirikan almarhum bapak saya,” ujarnya lirih.

Dia berharap, Kemenag mau mendengarkan keluhan guru honorer agar materi seleksi PPPK tidak dipersulit. (jen)

Akibat Cekcok, Seorang Petani Sabet Dua Kawannya dengan Sabit

PASURUAN – Nasib sial dialami oleh dua orang petani, yakni, Nurhasan, (42), dan Solikin, (52) yang merupakan warga tetangga desa asal Desa Capang, Kecamatan Purwodadi. Pasalnya, saat kedua orang tersebut lagi asyik bekerja merontokan padi di lahan milik Sugito yang terletak di dusun Pucang Anom Purwosari tiba-tiba dibacok oleh Samsul Hadi pada Kamis (22/4) sore di Desa Pucangsari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan,

Samsul yang saat itu tengah menggarap sawah tiba-tiba saja mengamuk pada dua korban.

Kapolsek Purwosari AKP Safiudin menjelaskan, peristiwa tersebut berawal dari cekcok mulut yang terjadi sebelumnya antara korban dan pelaku.

Akibatnya, pelaku merasa tersinggung dengan perkataan korban.

Untuk membalaskan sakit hatinya, pelaku menyabetkan cabit yang dibawanya dan tepat ke arah punggung Sholikin.

Akibat bacokan itu, Sholikin mengalami luka hingga menembus ke tulang di belakang bahu kirinya.

Mengetahui peristiwa tersebut, Nur Hasan bermaksud melerai sekaligus menolong Sholikin.

Namun saat itu Samsul juga menyabetkan sabitnya ke arah Nur Hasan dengan membabi buta.

Tak ayal, akibat bacokan itu, Nur Hasan pun menderita luka robek pada bagian kepala, kaki dan punggung.

Beruntung aksi dari Samsul Hadi segera diketahui oleh Bripka Yuda, yang saat iti sedang sambang desa selaku Bhabinkamtibmas di sana.

Bripka Yuda pun kemudian berhasil mengamankan Samsul dan untuk kemudian dibawa ke Mapolsek.

Sedangkan kedua korban dibawa ke Puskesmas Purwosari untuk mendapatkan pertolongan pertama dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Bangil.

Kapolsek juga mengatakan korban yang paling parah adalah Nur Hasan. Karena mengalami luka bacok di bagian kepala, kaki dan punggung sebanyak tiga kali.

“Sementara korban lain Sholikin mengalami luka bacok satu titik di bagian punggung kiri,” terangnya.

Kasus ini sendiri imbuh Safiudin sedang dalam penanganan pihaknya.

“Barang bukti yang diamankan sebilah sabit dan dua pakaian korban yang ada bercak darahnya,” imbuh perwira dengan tiga balok ini. (qomar)