SURABAYA — Pro Kontra pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus bergulir, selain kesulitan teknis belajar, biaya dan alat penunjang juga menjadi masalah serius.
Merespon keadaan ini, Komisi Nasional Pendidikan (Komnasdik) Jawa Timur mengadakan jajak pendapat.
Dalam pres release yang dikeluarkan pada tanggal 6 Agustus 2020, diterangkan bahwa jajak pendapat dilaksanakan mulai tanggal 28 juli 2020 sampai dengan tanggal 5 Agustus 2020.
Dengan melibatkan 7233 responden di 38 kabupaten kota, didapati beberapa hasil yang menarik, diantaranya sebanyak 35,9% responden menyatakan ragu-ragu pembelajaran jarak jauh sudah optimal, 26% lainnya mengatakan tidak setuju.
Lebih dari 60% pendidik meyakini pembelajaran jarak jauh tidak membuat peserta didik semakin memahami materi.
Prof. Sumarji, selaku pengamat dunia pendidikan mengafirmasi hasil jajak pendapat tersebut, menurutnya kondisi anak sudah jenuh dengan PJJ.
Lebih lanjut ketua dewan pendidikan Nganjuk ini mengatakan, bahwa pembelajaran tatap muka harus menjadi solusinya.
Kemarin kita sudah rakor dengan pemprop dan pemkab untuk segera memasuki masa adaptasi dan segera bisa pembelajaran tatap muka dengan wajib menggunakan protokol covid 19, ungkap Sumarji lewat pesan WA.
Perubahan kembali dari Pembelajaran jarak jauh ke pembelajaran tatap muka, tentunya
memerlukan pemikiran yang lebih matang dan komprehenship, mengingat dampak psykologis dan juga kesehatan para siswa dan para pendidik juga perlu menjadi pertimbangan.
Akan tetapi dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih intensif, dengan pengawsan yang ketat akan meminimalisir penyebaran cobid-19. (Jon)
