
Mindset: Perubahan Dimulai dari Cara BerpikirOleh: Adin Jaelani Sopian, S.E., M.E.
Belakangan ini saya sedang membaca buku Mindset: Mengerti Kekuatan Pola Pikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda, karya Carol S. Dweck. Buku ini memberikan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana cara berpikir seseorang sangat menentukan kualitas hidup, kepemimpinan, dan keberhasilannya.
Salah satu gagasan utama yang saya kutip dari buku tersebut adalah adanya dua jenis pola pikir, yaitu Fixed Mindset (pola pikir tetap) dan Growth Mindset (pola pikir bertumbuh).
Orang dengan fixed mindset cenderung meyakini bahwa kemampuan, kecerdasan, dan bakat seseorang sudah ditentukan sejak lahir. Ketika menghadapi kegagalan, mereka mudah menyerah dan menganggap dirinya memang tidak mampu.
Sebaliknya, orang dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat terus berkembang melalui belajar, latihan, pengalaman, dan kerja keras. Mereka memandang kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Pemikiran ini sangat relevan dengan kehidupan kita sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun sebagai kader dan pemimpin organisasi.
Sering kali kita sibuk mengeluhkan keadaan. Kita menyalahkan lingkungan, menyalahkan pemimpin, menyalahkan sistem, bahkan menyalahkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Padahal, perubahan yang paling mungkin kita lakukan adalah perubahan terhadap diri kita sendiri.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan sosial dan peradaban selalu diawali dari perubahan individu. Perubahan individu diawali dari perubahan pola pikir.
Karena itu, saya meyakini bahwa tugas kita bukan sekadar mengkritik keadaan, melainkan terus memperbaiki kapasitas diri. Bukan sekadar mencari siapa yang salah, tetapi mencari apa yang bisa kita perbaiki.
Dalam kepemimpinan organisasi, termasuk di PKS Karawang, semangat growth mindset sangat penting untuk dibangun. Kita harus melihat setiap kader sebagai pribadi yang memiliki potensi untuk berkembang. Kita harus membangun budaya belajar, budaya evaluasi, budaya menerima masukan, dan budaya memperbaiki diri secara berkelanjutan.
Kita tidak dituntut menjadi sempurna hari ini. Namun kita dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Mari kita mulai membiasakan diri mengganti kalimat:
“Saya tidak bisa.”
menjadi:
“Saya belum bisa, tetapi saya akan belajar.”
Mengganti:
“Ini tidak mungkin.”
menjadi:
“Bagaimana caranya agar ini bisa diwujudkan?”
Karena sesungguhnya kemajuan sebuah organisasi, daerah, bahkan bangsa, tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh pola pikir orang-orang yang ada di dalamnya.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa bertumbuh, belajar, dan memperbaiki diri demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.










