SURABAYA – Dari udara disiram air, dari darat dibabat sekat. Itu strategi terbaru BPBD Jawa Timur untuk menjinakkan karhutla di Gunung Semeru yang sudah membakar ratusan hektare sejak akhir Agustus lalu.
Rabu (2/9/2026) BPBD Jatim resmi menerjunkan helikopter PK-DAP milik BNPB. Helikopter yang diterbangkan khusus dari Lampung itu bertugas melakukan water bombing di titik-titik yang tak bisa dijangkau tim jalan kaki.
“Kita kejar dari atas karena medan di punggungan terlalu curam. Tim darat fokus buka sekat, tim udara fokus padamkan titik api,” ujar Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, di Surabaya.
Sasaran utama penyiraman dari udara adalah kawasan Barat Pos 1 Pendakian, tepatnya di tebing punggungan Desa Ranupane, Kecamatan Senduro.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Jatim, masih ada dua titik api besar yang aktif: di sekitar Ranu Kumbolo dan Ranu Pane B29. Kedua lokasi itu dikelilingi jurang dan lereng curam. Jalan darat butuh waktu 6-8 jam untuk sampai.
Total luas lahan yang terdampak sejak 26 Agustus 2026 sudah mencapai sekitar 600 hektare.
Namun operasi udara tidak semudah membalik telapak tangan. Angin kencang di ketinggian Semeru membuat pilot harus ekstra hati-hati.
“Kendalanya angin. Angin bikin api cepat lari, sekaligus bikin goyangan helikopter saat water bombing. Keamanan kru jadi prioritas,” jelas Gatot.
Karena itu, jadwal terbang sangat bergantung pada cuaca. Jika angin reda, 1 sorti helikopter bisa menjatuhkan ribuan liter air ke titik api dalam sehari.
Sambil menunggu giliran helikopter, ratusan personel gabungan dari BPBD, TNBTS, TNI, Polri, relawan dan warga terus bekerja di darat.
Fokus mereka: membuat sekat bakar. Caranya dengan memotong vegetasi dan membuat jalur kosong agar api tidak merambat ke arah permukiman di Desa Ranupane.
“Kami tidak bisa hanya mengandalkan dari atas. Sekat di bawah inilah yang menahan api agar tidak turun ke warga,” kata salah satu koordinator lapangan.
Warga sekitar Pos 1 juga dilibatkan. Mereka bergiliran patroli malam membawa peralatan sederhana untuk memantau percikan api.
BPBD Jatim berharap beberapa hari ke depan cuaca lebih bersahabat. Jika angin melemah dan kelembaban naik, operasi water bombing bisa lebih sering dan hasilnya lebih maksimal.
Sementara itu pendakian ke Ranu Kumbolo masih ditutup total oleh TNBTS sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Upaya pemadaman ini menjadi ujian bagi semua pihak. Api di Semeru harus dipadamkan sebelum benar-benar mengancam permukiman yang jaraknya kini hanya tinggal 1 kilometer dari bibir hutan. (red)
















