CIMAHI – Keahlian yang sudah sangat jarang dikuasai oleh masyarakat, khususnya masyarakat Sunda adalah penguasaan aksara Kuno. Namun sangat luar biasa apabila dikalangan masyarakat atau praktisi muncul seorang ahli aksara kuno, ternyata bukan suatu keniscayaan jika ternyata ada.
Yudistira Purana Sakyakirti atau lebih terkenal dengan panggilan Mang Ujang Laip, merupakan salah seorang praktisi aksara yang lahir dari kalangan masyarakat bukan dari Akademisi.
Pendiri Komunitas Aksara “Gentra Pamitran” ini merupakan salah seorang yang menguasai Hampir 10 hurup kuno diantaranya, aksara atau hurup Palawa, Dewanagari, Pranagari, Gurumuki, huruf Buda Kawi, aksara Sunda kuno (buhun), aksara Carakan Jawa, aksara cacarakan, aksara Bali bahkan Ka ga nga.
Dalam keseharian lelaki yang kini berusia hampir 62 tahun ini tetap menggeluti aksara lewat kegiatan menyalin, menterjemahkan bahkan mengajarkan kemampuan yang dimilikinya dalam bidang aksara/huruf kuno kepada murid-muridnya.
Dalam suatu kegiatan halal bi halal yang dilaksanakan di padepokan “Haur Wulung” pimpinan Ustadz Rizal, wilayah Kelurahan Citeureup Kecamatan Cimahi Utara.
Pada kegiatan tersebut Mang Ujang Laip menerima Gelar Kehormatan Sang Mahakawi dari beberapa komunitas pemerhati aksara dan Lembaga Budaya yang hadir pada kesempatan tersebut, Minggu, (17/05/2022), dengan disaksikan oleh Pengurus Lembaga Badan Kebudayaan Nasional PDIP Propinsi Jawa Barat.
Salah seorang pengurus Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDIP Wakil Ketua Bidang Data, Dadan Saripudin Angkat bicara terkait Pemberian Gelar Sang Mahakawi Kepada Yudistira Purana Sakyakirti (Mang Ujang Laip) tersebut.
“Berdasarkan Undang-undang No.5 tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, Aksara Sunda kuno harus disosialisasikan karena harus tahu dan merupakan amanat undang-undang, Terkait Aksara atau huruf bukan saja Ka ga nga saja namun seperti yang saat ini banyak digunakan.” Kata Dadan.
Dadan menambahkan, kebetulan di Kota Cimahi ini ada salah seorang Maestro Aksara atau hurup kuno yakni Yudistira Purana Sakyakirti atau lebih akrab disapa Mang Ujang Laip yang menguasai lebih dari 10 aksara kuno.
Jadi dalam hal peninggalan prasasti atau artefak dan Naskah kuno bisa terbuka dengan dikuasainya aksara kuno ini. Membedah sejarah harus sesuia dengan jamannya dan aksara yang digunakan saat itu, tidak mungkin bisa dibaca dengan menggunakan aksara atau hurup Ka ga nga.
“Semoga dengan diadakannya pertemuan malam ini, akan ada pertemuan lanjutan mengenai aksara, bahasa dan budaya. Hubungannya dengan sejarah yang sesungguhnya terjadi khususnya sejarah Sunda yang pada akhirnya kita akan mengetahui diri kita sendiri.” Ungkap wakil Ketua bidang data BKN PDIP Provinsi Jawa Barat itu..
Sementara Koordinator Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cibungur, Kecamatan Batujajar Kabupaten Badung Barat, Wildan Awaludin menegaskan bahwa meskipun acara malam ini dibingkai dalam tema halal bi halal, namun termasuk acara yang sangat luar biasa.
“Luar biasa sekali acara malam ini karena kita kedatangan seorang Maestro Aksara yang telah dikukuhkan menjadi Sang Mahakawi, yang artinya Ahli dalam bidang aksara. Beliau (Mang Ujang Laip) sangat bersemangat membagikan keahliannya dalam bidang aksara atau huruf kuno.” Papar Wildan.
Dirinya berharap semoga generasi kedepan bisa menangakap peluang ini dalam hal aksara kuno, karena jika telah ke hilangan aksara atau akasara, maka akan hilanglah suatu bangsa. Dengan diadakannya kegiatan seperti ini, semoga dapat melestarikan aksara kuno khususnya aksara Sunda kuno dan umumnya semua aksara kuno yang ada di negeri ini.
“Dalam mempelajari aksara kuno ternyata luar biasa banyak serta memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, karena saking banyaknya jenis aksara sekaligus tipe aksara. Semoga hal ini merupakan salah satu Program yang dilirik oleh pemerintah untuk menyebarkan virus-virus semangat mempelajari dan menggali segala hal yang berkaitan dengan Aksara “Pungkas Wildan menyudahi penjelasannya.
Yudistira Purana Sakyakirti atau Mang Ujang Laip ditempat yang sama mengaku bersyukur mendapat tanggung jawab yang cukup berat dengan diterimanya gelar Maestro Aksara atau Sang Mahakawi.
“Sejatinya saya tidak meminta gelar ini, karena saya merasa masih jauh dari apa yang mereka lihat, saya hanya masyarakat biasa yang kebetulan diberikan sedikit kemampuan oleh Allah dalam bidang aksara kuno atau buhun.” Ungkapnya.
Ia berharap kedepan banyak generasi muda yang mau mempelajari aksara kuno agar bisa menggali sejarah bangsanya sendiri. “Sapapun yang ingin belajar pada saya, syaratnya sangat mudah dan ringan, yakni membawa peralatan menulis sendiri dan pulang jangan minta ongkos.”Terangnya disusul gelak tawa para hadirin yang hadir.
Achmad S