Home Blog Page 1691

Ina Septiana Pelukis Berkebutuhan Khusus, Berharap Bisa Berjumpa Walikota Cimahi

CIMAHI – Salah seorang peserta lomba melukis virtual yang diselenggarakan oleh Komite Seni Rupa DKKC (Dewan Kebudayaan Kota Cimahi), adalah seorang gadis cantik yang berdomisili di Kampung Lembur sawah RT 04-RW 16 Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, namanya Ina Septiana.

Sesuai dengan bulan kelahirannya yakni bulan september, gadis cantik yang berkebutuhan khusus (lumpuh kaki) ini awalnya normal, namun saat sudah dierima di SMK 1 Cimahi musibah datang, tiba-tiba sekujur tubuhnya tidak bisa digerakan, bahkan ingatannyapun kadang sadar kemudian tidak mengingat apa-apa.

Selama 2 tahun hanya tergolek ditempat tidur dan dokter telah memvonis bahwa Ina Septiana mengidap penyakit Meningitis, betapa hancur hati kedua orang tua Ina, namun mereka tetap berusaha untuk kesembuhan sang buah hati.

Segala upaya dilakukan oleh kedua orang tua Ina baik berobat ke dokter maupun pengobatan non medis, selama sakit Ina dirawat dengan penuh kasih sayang oleh tetangganya yang sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri, beliau adalah Mbah Radem (73 th) sampai berangsur pulih, hanya saja tinggal kaki yang masih harus diterapi agar bisa sembuh seperti sediakala.

Saat ditemui di kediaman, Ina tampak sangat cantik dengan memakai kerudungnya, ditemani oleh ibunda tercinta Ibu Sunarni. Ibu Sunarni menceritakan, awal sakit sampai berangsur sembuh seperti sekarang ini, Senin (2/82021).

Kira-kira tahun 2017 saat Ina mau masuk SMK 1 tiba-tiba sakit dan dokter menyatakan Ina menderita penyakit meningitis atau radang selaput otak, dokter memvonis tidak bisa disembuhkan. Namun saya berusaha, baik secara medis maupun pengobatan alternatif serta doa untuk kesembuhan Ina, alhamdulillah setelah berupaya selama 2 tahun, Ina berangsur sembuh tinggal kakinya saja.

“Ini wujud kasih sayang Allah. Dulu badannya kurus beratnyapun hanya 25 kilogram, alhamdulillah sekarang sudah bertambah berat badan Ina, baru tahun ini Ina mulai membaik kesehatannya, setelah selama 2 tahun nggak bisa apa-apa sekarang tinggal kaki yang masih diupayakan kesembuhannya.” Terang Ibu Sunarni ibunda Ina Septian.

Ditempat yang sama Mbah Radem (73 th) menimpali. “Setelah dinyatakan tidak bisa sembuh karena penyakitnya (meningitis), namun saya yakin bahwa Ina bisa sembuh kembali,saya merawat Ina selama 2 tahun dan Alhamdulillah berangsur sembuh seperti yang terlihat sekarang ini, tinggal kakinya yang sedang dilakukan terapi pengobatan.”Timpal Mbah Radem.

Ina Septiana sendiri mengungkapkan rasa syukur dan harapannya, “Alhamdulillah setelah sembuh kaki saya, saya ingin melanjutkan kuliah setelah tahun ini saya sudah menyelesaikan program persamaan paket C, untuk kegiatan melukis saya akan tetap berkarya apalagi saya mendapatkan bantuan kanvas lukis dan cat lukis dari Kang Engkus Kusumah saya harus tambah semangat. Harapan saya juga ingin berjumpa Bapak Plt Walikota Cimahi .”Harap Ina Septiani

Pada kesempatan itu Kang Achmad Kusnadi atau yang biasa disapa kang Engkus Kusumah mengungkapkan, “Saat pelaksanaan lomba lukis virtual diantaranya ada salah seorang peserta berkebutuhan khusus yaitu Ina Septiana namun saya melihat semangat yang luar biasa yang diperlihatkan ina.Saya perhatikan saat pengambilan media lukis sampai penyerahan karyanya semangatnya luar biasa, dengan kondisi berkebutuhan khusus namun upayanya luar biasa mengikuti lomba melukis secara virtual walaupun belum masuk kategori juara itu hal lain.

Semoga Ina ini menjadi motivasi bagi anak seusianya yang normal dalam memperjuangkan sesuatu dan saya sangat mengapresiasi keinginan Ina untuk melanjutkan studi ke bangku kuliah, semoga ada jalannya.

“Saya berharap kegiatan melukis Ina makin terus diasah sehingga menghasilkan karya-karya yang luar biasa, tetap semangat, jangan sampai kekurangan menjadi alasan untuk tidak berkarya.”Pungkas Achmad Kusnadi yang juga menjabat sekretaris di Komite Seni Rupa DKKC(Dewan Kebudayaan Kota Cimahi)

Achmad Edison Syafei

Cegah Kerumunan, Seleksi MTQ Dilaksanakan di Sembilan Lokasi

JEMBER – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Jember memasuki tahapan seleksi. Hari pertama seleksi dilaksanakan pada Sabtu (31/07/2021).

Proses seleksi dilaksanakan di 9 (sembilan) lokasi untuk mencegah kerumunan, dan semua peserta dan dewan hakim telah melalui swab dan dinyatakan negatif, serta penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Seleksi pertama ini diikuti oleh 150 orang peserta dan dewan hakim sebanyak 30 orang, dengan rincian 18 hakim lokal, 7 orang hakim provinsi dan 5 orang hakim nasional.

Hakim dari Provinsi dan Nasional sengaja dihadirkan, agar para peserta terlatih dan memudahkan bisa tembus hingga level nasional.

Adapun beberapa cabang yang diperlombakan, Tartil tingkat Anak, Tilawah tingkat Anak, Tahfidz 1 juz tingkat dewasa, Tahfidz 20 dan 30 juz tingkat dewasa, Tafsir Alqur’an ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, Syahril Qur’an, Karya Ilmiah Alqur’an, serta Tahfidz untuk tingkat tunanetra. (Son)

Penyerahan Hadiah Pemenang Lomba Melukis Work From Home

CIMAHI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Cimahi ke-20 yang jatuh pada Senin 21 Juni 2021 yang lalu, seluruh kegiatan berkait dengan elemen masyarakat dipastikan berlangsung sederhana. Mengingat saat ini lonjakan terpaparnya masyarakat dengan pandemi Covid-19 semakin meningkat.

Dalam hal ini, Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kebudayaan Kota Cimahi  (KSR -DKKC) Deden Maulana mengatakan, kegiatan yang telah diselenggarakan dalam Lomba Melukis Di Rumah dengan model Work From Home (WFH) berjalan dengan lancar dan baik.

“Alkhamdulillah kegiatan lomba berjalan lancar. Peserta lomba ini diikuti para pelajar tingkat pendidikan menengah dan atas yakni SMP dan SMU di Kota Cimahi dan sekitarnya.” Kata Deden, Minggu (01/08/2021).

Deden menyampaikan bahwa maksud dari kegiatan lomba ini, untuk tetap menumbuhkan rasa semangat belajar, semangat berkresi serta inovasi pada diri pelajar walaupun dilaksanakan dengan cara dikerjakan di rumah saja.

“Selain itu, tujuan lomba yang telah diselenggarakan pada tanggal 28 Juni sampai dengan 11 Juli 2021 juga untuk melihat minat dan bakat para pelajar, agar dikemudian hari dapat terlihat talenta kepemudaan dalam bidang seni rupa dan desain pada umumnya.” Terangnya.

Deden menambahkan, pada kegiatan lomba yang mengusung tema ” LAWAN COVID 19 DI KOTA CIMAHI” ini, bagaimana para pelajar dapat menginspirasi setiap ide gagasan ke dalam bentuk visual yang kreatif dan bermakna sebagai pesan atau himbauan pada masa pandemi.

“Peserta dipersilahkan secara “merdeka” mengungkapkan dengan cara atau teknik melukis yang dikuasai sesuai tingkatannya.” Terangnya.

Lomba yang telah dilaksanakan pada waktu tersebut, dewan Juri telah memutuskan serta menetapkan para pemenang lomba yakni Nindhita Marsyanda Ramadhani sebagai juara 1, jara ke 2 diraih oleh Muhammad Arya Satya Isnaini, sedangkan juara ke 3 diraih oleh Ken Syahrani Braja.

Dewan Juri yang terdiri dari Nur Libiana Ma’ruf, Erni Serigar, Bahar Malaka dan Agus Hamdani telah menyeleksi karya lukis menjadi 25 karya terbaik, selanjutnya dipilih untuk juara 1, 2 dan 3.

Dalam kesempatan itu sekretaris KSRKC Achmad Kusnadi menuturkan, bagi para pemenang diberikan hadiah uang pembinaan, plakat dan sertifikat yang berbeda nominalnya.

“Namun untuk para peserta yang belum mendapat kesempatan diberikan juga sertifikat dan cinderamata.” Tuturnya.

Menurutnya, panitia lomba menilai para peserta sangat antusias pada kegiatan lomba tersebut, walaupun dilakukan dengan cara Work From Home (WFH) yang juga disertakan rekaman video pendek dengan menggunakan ponsel masing-masing di rumah peserta.

Selanjutnya, panitia telah menayangkan seluruh karya dengan cara eksibisi virtual pada chanel youtube Dewan Kebudayaan Kota Cimahi dan Chanel lain yang berkaitan di Komite Seni Rupa – DKKC.

Sedangkan rencana kedepan seluruh karya yang menjadi milik panitia (DKKC) akan dipamerkan dalam bentuk peragaan lainnya, jika masa pandemi telah selesai.

Pada kesempatan lainnya, Komite Seni Rupa Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (KSR-DKKC) Deden Maulana juga mengaskan, mengenai programnya akan terus melakukan kegiatan berkelanjutan dalam bentuk pelatihan dan pembinaan bagi  pelajar di Kota Cimahi dan sekitarnya.

“Maka bagi peserta lomba dan masyarakat lainnya mari kita saling mendukung guna meningkatkan sikap, pengetahuan, keahlian dan keterampilan dalam bentuk kreatifitas yang kiranya akan bermanfaat sebagai bidang terapan secara luas.” Tegasnya.

Deden Maulana yang juga sebagai dosen DKV Universitas Widyatama Bandung, mengucapkan selamat bagi para pemenang lomba serta peserta lainnya.

“Teruslah semangat dalam belajar, dan terus menjaga prokes serta bersama-sama kita lawan Covid 19 di Kota Cimahi.” Pungkasnya menutup pembicaraan.

Achmad Edison

Ribuan Warga Jombang Lakukan Vaksinasi Dosis Kedua di Kebonrojo

JOMBANG, Dalam rangka mendukung target Pemerintah dalam melakukan percepatan Herd Immunity dan pengendalian terhadap Covid-19, Polres Jombang kembali menggelar Gerai vaksin Presisi vaksinasi massal menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-76 Tahun 2021 bertempat di Kebonrojo Jalan Raya KH. Wakhid Hasyim Jombang, Minggu, (01/08/2021).

Vaksinasi massal yang digelar Polres Jombang kali ini menargetkan 2000 orang untuk disuntik vaksin jenis Sinovac dosis ke-2. Petugas vaksinator yang dilibatkan dalam kegiatan ini sejumlah 10 orang yang terdiri dari 7 orang vaksinator Polri dan 3 vaksinator TNI.

Vaksinasi berjalan cukup baik dan tertib dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Petugas mengatur jadwal kehadiran masyarakat guna mencegah terjadinya kerumunan orang.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kapolres Jombang AKBP Agung Setyo Nugroho, Bupati Jombang Hj. Mundjidah Wahab, Ketua DPRD Jombang H. Mas’ud Zuremi, Dandim 0814 Letkol Inf. Triyono, Dansat Radar 222 Kabuh Jombang, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Pejabat Utama (PJU) Polres Jombang dan Kapolsek jajaran Polres Jombang.

Turut hadir juga Wakapolda Jatim Brigjen. Pol. Drs. Slamet Hadi Supraptoyo didampingi Karorena Kombes Revindo, Kabidpropam Kombes Taufik Herdiansyah, Direskrimun Kombes Totok Suhariyanto dan Kombes Dr. Komang dari Biddokes Polda Jatim.

Dalam sambutannya Kapolres Jombang AKBP Agung Setyo Nugroho mengatakan, serbuan vaksinasi yang dilaksanakan Polres Jombang telah mencapai 23.699 ribu vaksin untuk masyarakat Jombang atau kurang lebih 61 persen. Dengan tergelarnya kegiatan vaksin massal tersebut, diharapkan prosentasi akan terus bertambah.

“Antusiasme masyarakat Jombang dalam giat vaksin cukup tinggi. hal itu tentunya karena komunikasi dan pendekatan maksimal oleh tiga pilar kamtibmas bhabinkamtibmas, bhabinsa dan kepala desa yang selalu menyemangati tentang pentingnya melakukan vaksin sehingga masyarakat mendaftar ke lokasi vaksin,” ujarnya.

Kapolres mengingatkan kepada seluruh masyarakat maupun peserta vaksinasi untuk tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sudah disuntik vaksin.

“Masyarakat yang telah melakukan vaksinasi, saya selalu ingatkan tetap patuhi dan laksanakan protokol kesehatan. Karena kita harus tetap menjaga diri kita, untuk tidak menularkan ataupun tertular, karena itu protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan. Walaupun kita semua sudah vaksinasi,” tutur Agung.

Ia menambahkan, kegiatan vaksinasi akan terus dilakukan Polres Jombang untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok di masyarakat. “Kita akan berusaha memberikan yang terbaik buat masyarakat agar cepat terbentuk herd immunity, jika dosis vaksin kita habis kita akan mengajukan lagi,” ujarnya.

Wakapolda Jatim Brigjen. Pol. Drs. Slamet Hadi Supraptoyo menyampaikan, antusias masyarakat mengikuti vaksinasi menggambarkan bahwa masyarakat Jombang sangat peduli terkait dengan adanya vaksin. Kegiatan yang dilaksanakan hari ini, tentunya bagian kegiatan dari percepatan vaksinasi yang dilakukan oleh Pemkab Jombang.

Terkait dengan cakupan vaksinasi yang ada di Kabupaten Jombang. Waka Polda mengungkapkan, Jombang merupakan kabupaten atau lima cakupan vaksinasi yang tertinggi.

“Hari ini atau data terakhir kurang lebih 1,8 persen dari sasaran vaksinasi Jawa timur, itu untuk vaksinasi yang pertama. Kalau yang kedua masih 0,9 persen, kurang lebih sekitar hampir 300 ribu masyarakat yang sudah melaksanakan vaksinasi, tinggal sasaran vaksinasi kurang lebih 0,9 persen. Ini menggambarkan adanya kepedulian,” ujarnya.

Wakapolda Jatim menyampaikan terima kasih kepada Bupati dan Forkopimda Jombang dalam pelaksanaan vaksinasi yang semata mata untuk membantu masyarakat agar bisa meningkatkan herd immunity dari Covid-19.

Panglima TNI Apresiasi Kolaborasi Tim Nakes, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Saat Kunjungan di Jatim

Forkompimda Jawa Timur, mendampingi Panglima TNI serta Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) melakukan kunjungan di Jawa Timur, pada Minggu (1/8/2021).

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V Brawijaya Mayjend TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta bersama Pejabat Utama Polda Jatim, dan Pejabat Utama Kodam V Brawijaya mendampingi kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, serta Kabaharkam Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto melakukan pengecekan disejumlah Puskesmas di Jatim.

Puskesmas yang dikunjungi diantaranya, Puskesmas Gayaman Mojokerto, Puskesmas Sukomoro Nganjuk, Puskesmas Balerejo Madiun. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan pelaksanaan 3T Testing, Tracing dan Treatment, serta penerapan aplikasi Silacak dan aplikasi inaRISK oleh TNI Polri dalam rangka penanganan Covid-19 di Jatim.

Dalam kunjungannya, Panglima TNI dan Kabaharkam Polri, melakukan pengecekan terhadap tim Tenaga Kesehatan (Nakes) dan Babinsa serta Bhabinkamtibmas, dalam melakukan penanganan pasien covid-19 di masing-masing daerah.

Sebagai informasi, rasio kasus positif diperoleh dengan membandingkan temuan orang positif Covid-19 dari jumlah orang yang diperiksa.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batas aman, rasio kasus positif Covid-19 tak lebih dari 5 persen.

Itu artinya, situasi pandemi relatif terkendali bila dari 100 orang yang diperiksa, hanya 5 kasus positif Covid-19 yang ditemukan.

Sementara di Mojokerto, Panglima TNI mengapresiasi kinerja tim Nakes, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Mojokerto, yang selalu berkolaborasi dan bagus dalam penanganan kasus Covid-19. Selain itu, saat ini di Mojokerto rasio kasus positif covid-19 hanya 1 banding 29.

“Rasionya 1 banding 29,sudah masuk standar WHO loh itu Ibu Gubernur,” ucap Panglima TNI didampingi Forkopimda Jatim, saat berdialog dengan tim Nakes Mojokerto.

“Oke bagus sudah, hanya dokter yang ngerti. Jago-jago semua,” celetuk Panglima TNI dan mengapresiasi Bupati Mojokerto yang kebetulan juga dokter.

“ini kita apresiasi, bagus sekali kalau bisa rasio 1 banding 15 atau 1 banding 29,” kata Panglima TNI bersama Kabaharkam Polri saat berkunjung di Puskesmas Gayaman, Mojokerto.

Selain itu, Panglima TNI juga menguji kemampuan anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam pengoprasian aplikasi Sistem Informasi Pelacakan (SiLacak) dan inaRISK, serta koordinasi 4 pilar, bagaimana memperlakukan pasien covid-19.

Koordinasi tersebut diuji dengan melakukan komunikasi melalu telepon antara Babinsa maupun Bhabinkamtibmas kepada pasien covid yang sedang melakukan Isolasi Mandiri (Isoman) untuk mengetahui perkembangan kesehatannya secara berkala.

Hal yang sama juga dilakukan dimasing-masing Puskesmas, yang dikunjungi oleh Panglima TNI bersama Kabaharkam Polri kepada petugas di lapangan, dalam menerapkan 3T serta kemampuan anggota dalam mengoprasikan aplikasi Silacak dan aplikasi inaRISK, meliputi alur sistem pelaporan, koordinasi tracing digital penanganan pasien covid-19 dan interaksi dengan pasien Covid-19 yang sedang melaksanakan isolasi mandiri secara virtual.

Dikibarkan di Surabaya, Simbol Semangat Lawan Covid-19

SURABAYA – Berbagai kegiatan menjaga stabilitas kesehatan dan ekonomi masyarakat, tak hentinya dilakukan oleh Polrestabes Surabaya Pemerintah Kota (Pemkot), di tengah terjangan pandemi corona.

Dilaksanakannya kegiatan Vaksin Masal dan pembagian bansos kepada masyarakat yang terdampak, merupakan perwujudan dari upaya pemerintah yang terus menerus digalakkan.

Kini di Surabaya beberapa masyarakat yang merupakan pekerja sektor non formal seperti pedagang kaki lima (PKL), tukang tambal ban, hingga tukang becak memilih untuk memasang bendera merah putih sebagai simbol perang melawan Covid19.

Kegigihan masyarakat dalam berkolaborasi bersama pemerintah atasi pandemi mendapat apresiasi dari Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo.

Hartoyo memastikan, masyarakat tetap bisa bekerja mencukupi kebutuhan keluarga asal tetap dengan protokol kesehatan dan mentaati aturan pemerintah selama pandemi.

“Situasi memang tidak mudah. Tapi dengan kebijaksanaan pemerintah dan masyarakat, masa sulit ini akan terlewati. Bendera merah putih bisa jadi sebagai simbol perang melawan Covid 19. Sinergi antara pemerintah dengan masyarakat,”ujar Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya.

Semangat merah putih itu, menurut Hartoyo merupakan simbol semangat arek-arek Suroboyo khususnya untuk tetap bisa survive di tengah pandemi ini.

“Semangat itu harus digelorakan bersama. Jadi masyarakat tetap bisa bertahan hidup dengan bekerja sekaligus kesehatannya tetap terjaga. Dengan prokes, taat aturan pemerintah melalui kebijakan baik pusat maupun daerah, InsyaAllah pandemi ini akan segera tertangani dengan baik,” tandasnya. (d&b)

Personel Gabungan Tiga Pilar Gelar Patroli Pantau Penerapan PPKM Level 4

LUMAJANG – Dengan diterapkannya PPKM Level 4 sebagai upaya pengendalian persebaran virus covid 19, petugas gabungan semakin gencar melaksanakan Himbauan Prokes dan antisipasi kriminalitas di wilayah Lumajang.

Kegiatan penegakan PPKM Level 4 yang digelar setiap hari termasuk di waktu malam, seperti halnya pada Sabtu (31/7/2021), petugas gabungan menyambangi tempat warung kopi yang berkerumun.

Personel gabungan terdiri Polres, Kodim 0821, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan Lumajang memberikan himbauan prokes 5 M kepada warga yang sedang berkerumun di warung kopi.

“Petugas memberikan himbauan kepada warga yang berkerumun untuk tetap mematuhi prokes 5M yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, membatasi mobilitasm dan menjauhi kerumunan,” Ujar Paur Subbag Humas Polres Lumajang, Minggu (1/8/2021).

Lanjutnya, petugas mengingatkan bahwa kasus lonjakan covid 19 terjadi dimana-mana termasuk di wilayah Lumajang. Kepada warga masyarakat diminta untuk tidak kendor melaksanakan Prokes dan tetap waspada serta patuhi PPKM level 4 yang sedang digalakkan di Kabupaten Lumajang.

“Diharapkan dengan diperketatnya aturan melalui PPKM Darurat ini serta melalui pengawasan yang ketat, kasus covid 19 di wilayah Kabupaten Lumajang segera bisa turun dan bisa ditekan,” lanjut dia.

Selain itu, petugas juga melakukan pengecekan sejumlah rumah sakit rujukan pasien confirm positif dan ketersediaan tabung oksigen, seperti rumah sakit Wijaya Kusuma Lumajang, RSUD dr. Haryoto Lumajang, Islam Lumajang, dan Muhammadiyah Lumajang.

“Hasil pantauan di Rumah sakit Haryoto tabung oksigen besar ada yang sedang kecil habis, dan Rumah sakit islam terpenuhi,” ujar Shinta.

Diharapkan dengan adanya patroli gabungan tersebut dengan menyampaikan himbauan dan memberikan pemahaman dapat secepatnya mengurangi penyebaran Covid 19 dan segera pulih kembali.

“Tugas ini dilaksanakan hingga Pandemi selesai. Semoga dapat secepatnya pulih,” pungkas Ipda Andrias Shinta. *

Entas-entas, Warisan Budaya Leluhur Suku Tengger

Gempur News – Entas- entas merupakan tradisi menyempurnakan arwah dari belenggu duniawi, agar dapat menapaki jalan terang menuju swargaloka atau nirwana dalam keadaan moksa. Tradisi ini merupakan upacara kematian, khususnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo.

Ritual adat ini, dilaksanakan pada hari yang ke-1000 atau minimal pada hari ke-44 setelah keluarga ada yang meninggal. Istilah Entas-entas berasal dari bahasa Jawa, yaitu entas yang berarti mengangkat.

Sebagaimana kelahiran, kematian sejatinya merupakan sebuah babak baru. Oleh karena itu, kematian tanpa Entas-entas dianggap sebuah prosesi yang tak tuntas bagi suku Tengger.

Sebab di dalam alam pikirnya, sudah tertanam pemahaman ‘dunia antara’—yang meski tak terjangkau oleh nalar manusia, wilayah ini diyakini sebagai ruang tunggu bagi arwah-arwah yang belum diswargakan.

Selain merupakan upacara tertinggi dalam tingkatan penghormatan terhadap leluhur, Entas-entas juga diyakini sebagai mekanisme preventif agar kehidupan manusia terhindar dari malapetaka. Maka tak heran, jika ritus ini lebih menyerupai kenduri ketimbang menggambarkan suasana dukacita.

Tepat setelah matahari terbenam, Entas-entas dimulai dengan menggelar prosesi Rakan Tawang. Sebuah laku yang menandai sakralnya hubungan antara manusia–leluhur–Sang Pencipta, lewat perantara kemenyan dan rapalan mantra.

Selepas Rakan Tawang, keluarga dan kerabat mendiang kemudian memberkati kulak secara bergantian. Kulak adalah sejenis bambu yang dijadikan wadah untuk menampung benda-benda persembahan bagi leluhur.

Pada rangkaian Entas-entas hari kedua, sejumlah properti ritus diarahkan ke sebuah ruang terbuka, diiringi tabuhan alat musik tradisional yang membahana di sepanjang jalan menuju arena penyembelihan hewan atau Mbeduduk Ing Sanggar Padudukan.

Jika dicermati lebih jauh, momen ini agaknya cukup padu untuk memantik sebuah dialektika tentang warisan budaya leluhur yang semestinya memang kekal di tangan para pelestari.

Tak peduli seberapa derasnya arus modernisasi, setiap ritual adat yang dilestarikan sejatinya sudah menjadi swargaloka tersendiri bagi khazanah kebudayaan di Nusantara.

Pada ritual penyembelihan hewan, seorang pandita dan beberapa dukun adat kembali menopang ritual dengan magisnya mantra. “Setiap hewan yang disembelih dianggap suci,” ujar seorang warga yang hadir.

Kesadaran kolektif ini lazim ditemui di kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kekuatan transenden. Sebab suatu pengorbanan, meski diwarnai pertumpahan darah, tak selamanya berkonotasi negatif.

Justru sebaliknya, kesakralan ritual ini dianggap dapat memberikan berkah bagi kehidupan, terutama bagi kesuburan tanah yang berujung pada hasil panen yang berlimpah.

Selanjutnya sampai pada prosesi ritual Nyolong Iwa, yaitu prosesi penyerahan sesaji kepada istri salah seorang pemangku adat, berupa potongan daging hewan yang disembelih pada saat Mbeduduk Ing Sanggar Padudukan.

Disusul dengan Ngaturi Sitiderma, sesuai penamaannya, ritual ini merupakan gambaran rasa syukur atas segala sesuatu yang diperoleh dari kehidupan. Baik berkah panen, peternakan, maupun hasil usaha (perdagangan atau sebagai tenaga kerja).

Bersama dengan itu, simbol Ibu Pertiwi pun menjelma pada sosok istri pemangku adat. Ia kemudian mengolah daging hewan yang diserahkan oleh keluarga mendiang, untuk dijadikan sesaji bagi leluhur sekaligus panganan untuk seluruh warga.

Selanjutnya, persiapan dilakukan untuk menapaki ritual pamungkas. Layaknya upacara adat Ngaben, upacara kematian bagi suku Tengger juga tidak terlepas dari tradisi pemurnian jiwa, lewat ritual kremasi.

Tahapan ritual ini mewakili keluhuran budaya Jawa, serta menunjukkan betapa pentingnya naluri dan peran perempuan dalam memelihara dan merawat kehidupan lewat keterampilan mengolah aneka santapan.

Di situlah letak perbedaan yang cukup signifikan dengan upacara adat Ngaben. Tanpa mengurangi kesakralan makna dan filosofi Entas-entas, boneka petra dihadirkan sebagai simbol untuk mengenang mendiang semasa hidup. Sementara jasad atau tulang belulangnya tetap dibiarkan bersemayam di pekuburan.

Meski lebih menyerupai sebuah perayaan, sepertinya bukan semata takhayul jika masyarakat Tengger menganggap Entas-entas sebagai medium pembebasan jiwa paling tinggi. Sebab beberapa hal memang menjadi lebih masuk akal, ketika berhenti dipertanyakan di ruang nalar.

Seperti Suku Tengger yang memercayai adanya swargaloka sebagaimana yang diyakini para pendahulunya atau sesederhana menganggap tema kematian sebagai sesuatu yang rileks untuk diperbincangkan sembari menyeruput seduhan kopi. (*etnis.id)

Warga Ranupani Protes, Kades Untung Minta Maaf

LUMAJANG – Bermula dari pelarangan menggelar acara adat di massa PPKM, sejumlah warga Desa Ranupani Kecamatan Senduro Lumajang, melakukan protes terkait kepemimpinan Kepala Desa setempat.

Aksi protes tersebut dilakukan dengan cara menyampaikan aspirasi yang dihadiri Kapolres Lumajang AKBP Eka Yekti dan Dandim 0821 Letkol Inf Andi Andriyanto Wibowo S.Sos, M.I.Pol, bertempat di Pendopo Kantor Desa Ranupani, Sabtu (31/7/2021).

Sebelumnya, pernah terjadi pengrusakan fasum, disebut lantaran warga setempat dilarang menggelar upacara adat Entas-entas, merupakan gambaran mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal, agar mendapat tempat yang lebih baik di alam arwah.

Dalam sambutannya, Kapolres Lumajang AKBP Eka Yekti Hananto Seno menyampaikan, bahwa pihaknya memperbolehkan acara digelar asalkan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan (Prokes).

Dandim Let Inf Andi Andriyanto Wibowo juga menyampaikan bahwa TNI-Polri dan Pemerintah Daerah akan mendukung harapan warga Desa Ranupani untuk selalu mengikuti adat yang ada.

“Siapapun yang menjabat sebagai pemimpin, harus mengikuti adat yang ada, berkoordinasi dengan tokoh tokoh, baik toda, toga dan tomas dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan, dan jangan disangkut pautkan dengan politik,” kata Dandim.

Sekedar diketahui, tanah Ranupani merupakan tanah adat. Jadi, siapapun yang menjadi pemimpin di desa tersebut, warga mengharuskan untuk selalu mengikuti adat yang ada.

Sementara Kades Ranupani, Untung Raharjo, pada kesempatan yang sama menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat baik sengaja maupun tidak. Pihaknya berjanji akan mengikuti adat yang ada di Desa Ranupani. (d&b)

Cek Penggunaan Aplikasi Tracer Silacak, Panglima TNI dan Kabaharkam didampingi Forkopimda Jawa Timur

SURABAYA – Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak dampingi Panglima TNI serta Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) melakukan kunjungan di Jawa Timur, pada Sabtu (31/7/2021).

Dalam kunjungannya Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kabaharkam Polri Komjen Pol Arief Sulistyanto, melakukan pengecekan terhadap tim Nakes dan Bhabinkamtibmas serta Babinsa di lapangan.

Pengecekan tersebut dilakukan di sejumlah Puskesmas di Jawa Timur, diantaranya Puskesmas Porong Sidoarjo, Puskesmas Lawang, Puskesmas Singosari, dan Puskesmas Polowijen Blimbing.

Disetiap kunjungannya, Panglima TNI dan Kabaharkam melakukan pengecekan kepada anggota TNI Polri di lapangan, terkait kemampuan dalam melakukan Tracing, Testing dan Treatment (3T) dengan menggunakan Aplikasi Silacak.

Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam melakukan 3T kepada masyarakat yang terpapar covid-19, guna percepatan penanganan kasus di Puskesmas dimasing – masing daerah.