(Oleh: Dadang, K)
Ahmad termenung disudut ruangan kelas, sambil memandangi bangku dan meja yang berantakan serta lantai yang kotor bekas sepatu dan robekan kertas.
Sore itu tidak seperti biasanya, ahmad nampak kelelahan dan seperti enggan untuk melakukan tugas rutin, menata bangku, meja dan membersihka ruang kelas.
Itu menjadi kwajibannya karena merupakan perjanjian dengan pihak sekolah, dengan membersihkan kelas dan halaman sekolah selesai pelajaran, dengan mendapat upah serta kompensasi bisa sekolah dengan gratis.
Ahmad sendiri hidup sebatangkara, setelah ayahnya meninggal lima tahun yang lalu, ketika dirinya masih duduk di bangku kelas satu SMP.
Sejak itu Ahmad diasuh oleh bibinya, sedangkan sejak kecil tidak mengetahui siapa ibunya yang sebenarnya, karena setelah orangtuanya bercerai, dirinya dibawa pulang kekampung halaman ayahnya.
“Mad,”… suatu ketika bibinya membisiki ahmad.
“Ya bik”, ahmad menjawab dengan pelan.
Dan saat itu dialog keduanya agak serius, dan ahmad nampak antusias mendengarkan cerita bibinya.
Mata Ahmad nampak berkaca kaca, dan wajahnya nampak merah, nafasnya mulai sesak, akhirnya tangisanpun tak bisa dibendung.
Ahmad memeluk bibinya, dan terus memaksa bibinya untuk melanjutkan ceritanya.
Malampun mulai larut, malam itu Ahmad tidak mampu memejamkan matanya, fikirannya gundah antara sedih, kalut tetapi menaruh harapan yang selama ini selalu membuat dirinya semangat dalam hidupnya.
Paginya ahmad terlambat bangun, dan bibinya dengan penuh kasihsayang menyiapkan makan pagi.
Sejak saat itu, kehidupan ahmad nampak ceria, dan lebih rajin lagi dalam belajar dan bekerja.
Harapan,…. sebuah harapan terbentang luas dihadapannya, dan ternyata ibu kandungnya yang selama ini dibilang sudah meninggal, ternyata masih hidup meskipun jauh dan belum tahu tempat dan keadaannya.
Siang itu ahmad, membersihkan rumah, meja kursi, dan beberapa almari usang yang menjadi tempat menyimpan pakaian.
Betapa kagetnya ahmad ketika membuka almari, ditemukan buku kecil warna coklat, yang merupakan bukti ikatan kedua orangtuanya dalam hidup berumahtangga.
“Oh, Ya Alloh…., ampunilah kedua orangtua kami,” suara Ahmad hampir tak terdengar, sambil memeluk buku nikah milik kedua orangtuanya.
Beberapa bulan kemudian, dengan persiapan yang matang, Ahmad diantar oleh teman temannya berangkat mencari kebenaran cerita bibinya, dengan keyakinan yang kuat, berbekal surat nikah orangtuanya, menyusuri jalan aspal sepanjang ratusan kilometer, memang tempat tinggal ayah dan ibunya sangat jauh dan berbeda kabupaten.
Tepat di dekat lokasi yang dituju, rombongan mereka terhenti dihalaman Masjid, untuk menunaikan ibadah sholat magrib, mereka berjamaah dengan masyarakat setempat.
Selepas sholat mereka berusaha mencari tau alamat yang dimaksud, dan bertanya kepada salah satu jamaah yang tadinya ikut sholat berjamaah.
Setelah beberapa saat lamanya, suasana menjadi ramai, ternyata hampir seluruh jamaah di masjid tersebut mengetahui apa yang terjadi pada kedua orangtua Ahmad.
“Ya Alloh, jadi kamu anaknya Supinah nak, yang dulu dibawa ayahmu, ternyata kamu masih hidup nak,” kata salah satu jamaah tersebut, dengan tidak sadar langsung memeluk ahmad.
Seketika itu kabar munculnya Ahmad segera tersebar kepelosok dusun, dan warga berbondong bondong menjemput ahmad dimasjid untuk diantar menemui ibunya.
Hati ahmad berdegup kencang, matanya berkaca kaca, ragu dan takut, takut salah sasaran dan takut ibunya tidak mau mengakui dirinya sebagai anaknya.
Wargapun berjalan mengiringi ahmad menuju rumah orangtuanya yang berjarak seratus meter dari masjid, dan ternyata beberapa orang sudah berdiri di depan pintu sebuah rumah kuno yang terbuat dari kayu, rumah tersebut tidak terlalu besar, tetapi sangat rapi dan bersih.
Tanpa banyak bicara beberapa orang tadi berebut memeluk ahmad sambil bertangisan, sesekali suara tangis itupun keras dan terdengar dari kejauhan.
Ahmad hanya terdiam dan ikut menangis, hatinya bertanya tanya yang mana sebenarnya ibunya yang selama ini sangat dirindukannya.
Suasana sangat ramai, beberapa pejabat desapun datang menemui ahmad dan teman temannya.
Ahmad mencoba membuka tas dan mengambil buku nikah orangtuanya, dan menunjukkaan kepada pak kampung.
“Pak, saya membawa surat ini, apa benar ibu saya masih hidup, kalau masih hidup sekarang berada dimana….?, Ujar Ahmad.
Pertanyaan itu disampaikan, karena selama ini ayahnya bilang kalau ibunya sudah meninggal dunia ketika dia masih berusia dua tahun.
Pak kampung hanya terdiam, memandangi ahmad, neneknya dan semua keluarganya yang ada saat itu.
Dengan terbata bata, pak kampungpun menjelaskan kepada ahmad, jika ibunya masih hidup dan antara kedua orangtuanya sebenarnya masih terikat perkawinan dan tidak bercerai.
“Ya dik…, ibumu masih hidup dan ada dirumah ini juga, akan tetapi,” pak kampung tidak mampu melanjutkan kata katanya.
“Tapi apa pak, dimana ibu sekarang..?, Ahmad sedikit berontak segera ingin tau tentang ibunya.
Akhirnya seorang nenek tua dengan pelan ikut menjelaskan ke ahmad.
“Begini le,” Ujar sang nenek.
“Aku ini nenekmu, sejak kamu dibawa ayahmu pulang kekampungnya, ibumu jadi sakit sakitan, tiap hari selalu manggil nama ahmad, Alhamdulillah kamu masih hidup le,” cerita nenek tersebut sambil menangis sesenggukan.
Dari beberapa cerita tadi diketahui, jika ibunya mengalami gangguan jiwa dan tidak bisa mengenali siapapun, tiap harinya hanya mengurung diri didalam kamar.
Dengan penuh haru penasaran, ahmad didampingi neneknya menemui ibunya, yang selalu termenung dengan pandangan kosong, lalu…
“Ibuu…, ibuuu..!, ahmadpun memeluk ibunya dan bersujud dihadapannya sambil menumpahkan tangis kerinduan.
Kerinduan seorang anak kepada orang yang telah melahirkannya ke dunia, delapan belas tahun berpisah, tanpa ada kabar yang sebenarnya, semua terputus oleh jarak, waktu dan rasa ego dari sang ayah.
Malam itu, Ahmad merasa bahagia dan teman teman yang mengantarkan juga ikut merasakan suasana bathin itu.
Kini Ahmad memilih hidup bersama sang ibu yang telah melahirkannya, tiada harta yang berharga yang didapatkannya, tetapi ahmad telah bertemu dengan ibunya, bersujud dan mencium kaki ibunya.
Kegelapan yang dialami belasan tahun akhirnya berubah dengan hadirnya sinar surya, sinar yang menerangi perjalanannya, perjalanan menempuh asa dengan pelukan seorang ibu, meski tanpa kata, dan bicara, akan tetapi sentuhan tangan ibunya menjadi semangat dalam hidupnya, kekuatan sinar yang menjadikan penerang dalam meniti masa depan. (Okto ’20).