Cimahi,Rabu(05/03/2026)
Suasana Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Cimahi yang biasanya identik dengan urusan administrasi, pada Rabu siang ini berubah menjadi “ruang perang” strategis melawan masalah genting. Pemerintah Kota Cimahi menggelar Rembuk Stunting 2026, sebuah gerakan besar yang tak hanya sekadar diskusi, tetapi deklarasi perang terhadap ancaman masa depan generasi bangsa.
Di tengah hiruk-pikuk pusat pelayanan itu, tampak Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudistira, duduk berdampingan dengan para anggota DPRD, jajaran Forkopimda, hingga para lurah se-Kota Cimahi. Bukan tanpa sebab, pasalnya mereka tengah memetakan “medan tempur” untuk menurunkan angka stunting dengan senjata utama: kolaborasi dan data akurat.
Bukan Sekadar Isu Gizi, Ini Cerminan Masa Depan Cimahi
Dalam pidato pembukanya yang penuh semangat, Adhitia Yudistira menegaskan bahwa persoalan stunting adalah cerminan masa depan Kota Cimahi.
“Jangan salah sangka. Kalau kita bicara stunting, ini bukan cuma urusan nasi sepiring atau susu segelas. Ini tentang gizi sejak dini, pola asuh, hingga kualitas pendidikan keluarga. Ini adalah taruhan masa depan kota kita,” tegasnya di hadapan para pemangku kepentingan.
Adhitia memaparkan kabar baik bahwa prevalensi stunting di Cimahi menunjukkan tren penurunan, dari 24,5 persen pada 2024 dan terus melandai di tahun 2025. Namun, ia mengingatkan bahwa “pekerjaan rumah” masih menumpuk, terutama dengan masih adanya kantong-kantong kemiskinan ekstrem yang menjadi faktor risiko utama.
“Data tidak boleh lagi jalan sendiri-sendiri. Cimahi Utara, Tengah, dan Selatan itu punya karakteristik yang berbeda. Ada yang masalahnya di pola asuh, ada yang di ekonomi. Solusi harus konvergen dan jitu, tidak bisa pakai obat yang sama untuk semua penyakit,” ujarnya, menekankan pentingnya pendekatan spesifik sesuai kondisi lapangan.
Target Ambisius 12 Persen: Optimisme di Tengah Tantangan
Sebuah target ambisius pun dicanangkan. Pemkot Cimahi membidik penurunan angka stunting hingga 12 persen pada tahun 2026. Sebuah angka yang menurut Adhitia tidak mudah, namun bukan berarti mustahil.
“Ini bukan lomba siapa yang paling sibuk, tapi bagaimana kita menghasilkan aksi nyata. Kolaborasi pentahelix—pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media—adalah kunci untuk memastikan program ini berkelanjutan,” serunya.
Ia menyoroti bahwa akar masalah stunting juga bersumber dari rendahnya tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi keluarga. Oleh karena itu, intervensi tidak hanya dilakukan di meja operasi, tetapi juga melalui edukasi keluarga, penguatan program Keluarga Berencana (KB) pasca pernikahan, hingga peningkatan kualitas pendidikan.
Rembuk Stunting: Momentum “Kawin Silang” Ide dan Aksi
Lebih dari sekadar forum tahunan, Rembuk Stunting 2024 ini disebut Adhitia sebagai momentum sakral untuk menyatukan persepsi dan memperkuat komitmen.
“Ini adalah ajang silaturahmi, ruang untuk ‘kawin silang’ ide antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat. Kita harus optimis. Saya percaya, Cimahi bisa ‘BERSERI’ (Bersih, Sehat, dan Religius) tanpa stunting, jika kita bergerak bersama-sama,” pungkasnya.
Dengan mengusung konsep pentahelix, Pemkot Cimahi optimistis bahwa percepatan penurunan stunting dapat berjalan efektif dan terukur. Para peserta pun pulang dengan membawa “senjata” berupa rencana aksi spesifik, siap diterjunkan ke wilayah masing-masing demi mencetak generasi Cimahi yang lebih sehat dan berkualitas.
Achmad Syafei






