Home Blog Page 1923

Patung Megalit di Lembah Besoa

0

SULAWESI TENGAH — Patung-patung megalit adalah karya nyata peradaban nenek moyang Lembah Besoa, Sulawesi Tengah.

Patung patung tersebut hingga kini masih berdiri kokoh dan tersebar di wilayah Bariri, Doda, Hanggira, Lempe dan Baliura.

Usia patung patung itu mencapai ratusan hingga ribuan tahun dan memancarkan kebudayaan tingkat tinggi masyarakatnya.

Ukuran dan bentuknya sangat beragam, mulai dari yang berukuran 1,5 m ada pula yang berukuran mencapai 4 m.

Begitu pula dengan bentuknya, mulai dari yang berbentuk patung manusia, jambangan besar (Kalamba), piringan (Tutu’na).

Ada pula patung yang berbentuk batu-batu rata/cembung (Batu Dakon), mortir batu dan tiang penyangga rumah.

Sekitar 431 situs ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Obyek terbesar diantaranya Batu Dakon.

Hasil karya peninggalan nenek moyang ini nampak harmonis dengan keindahan panorama alam Lembah Besoa.

Kondisi hutan yang masih asri mencerminkan pemandangan alam yang indah mempesona.

Didukung keberadaan megalit-megalit, menjadikan kawasan wisata di lokasi itu begitu memikat.

Oleh karenanya, Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), mengupayakan patung-patung megalit beserta hutan-hutannya selalu dijaga dan dilestarikan.

Perpaduan megalit dengan keharmonisan alam Lembah Besoa, ternyata menyimpan daya pikat akan misteri kekayaan sejarah nenek moyang.

Mengutip catatan yang ada, zaman pra sejarah menyebutkan bahwa nenek moyang orang Indonesia berasal dari daratan cina selatan, yang bermigrasi dengan perahu ke arah selatan pada ribuan tahun yang lalu.

Gelombang migrasi ini masuk pula ke Sulawesi dan mereka menetap dipulau ini hingga ke Sulawesi Tengah.

Para pengembara ini masuk dalam rumpun ras austronesia yang menyebar dari madagaskar sampai pasifik.

Pada saat itu gelombang kedua orang austronesia datang ke sulawesi dengan membawa kebudayaan zaman besi.

Dengan alat-alat dari besi ini mereka bisa membuat berbagai model peninggalan dari batu atau dikenal dengan Megalith.

Di sekitar lore lindu terdapat juga peninggalan masa prasejarah Austronesia ini.

Pada masanya, Sulawesi Tengah diduga menjadi pusat kebudayaan Austronesia ini.

Prasasti peninggalan kebudayaan nenek moyang ini berbentuk patung belanga besar dari batu, lumpang batu dan batu berukir lainnya.

Di sekitar Taman Nasional lore lindu lebih dari 431 situs yang ditemukan dan banyak lagi yang belum terungkap.

Diduga orang-orang asli di sekitar situs megalit adalah keturunan langsung dari orang-orang yang datang ribuan tahun lalu itu.

Sumber : TNLL Sulawesi Tengah.

Masalah Asmara, Seorang Pemuda Akhiri Hidupnya

PASURUAN –
Penemuan mayat seorang pria di sebuah rumah dusun Sambing Rt. 014 Rw. 006 desa Sedarum Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, Seorang Laki – laki diduga bunuh diri dengan cara menggantung dengan menggunakan sarung yg diikatkan ke kayu belandar ruang tengah rumah milik neneknya yg juga tempat tinggal korban.

Peristiwa yang menimpa M Aminulloh (22 th) korban menggantung diri di rumah neneknya dengan sarung yang di talikan kayu atap ruang tamu bagian depan di dusun sambing desa sedarum kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruàn senin 12/10/2020.

Berawal ada hari senin, 12 Oktober 2020 orang tuanya yang bernama Romli, menanyakan kepada Korban m aminulloh ” Kamu tidak kerja ta” kemudian korban menjawab kerja Pak, karena tidak ada kecurigaan pada anak nya lantas bapak korban pada pukul 05.30 wib Pergi kerja ke pabrik eratex probolinggo sebagai Security, sekira pukul. 06.30 wib korban pertama kali di ketahui oleh kakaknya yg bernama hidayat, korban melakukan bunuh diri di rumah Neneknya tepatnya di ruang tamu dengan menggunakan sarung warna merah motif coklat, sehingga kakak korban teriak- teriak minta tolong lalu datanglah ibu tiri korban yang bernama Anita dan dibantu tetangga sekitar dengan memberikan pertolongan dengan cara melepas ikatan sarung, salah satu warga ada yang menghubungi Rofik (Sekdes Sedarum) dan bersama2 membawa korban ke RSUD Grati mengunakan Mobil Siaga Desa sedarum.

Sempat di lakukan tindakan medis, korban di nyatakan meninggal dunia oleh pihak RSUD Grati dan jenazah di bawa pulang kerumah duka menggunakan mobil ambulance milik RSUD Grati.

Selanjutnya Rofik menghubungi Pepy (Bhabinkamtibmas Sedarum) bersama petugas dari Polsek Nguling mendatangi untuk melaksanakan olah tempat kejadian perkara dan mengamankan barang bukti yang
1 buah Sarung warna merah marun motif Coklat,
1 buah buku yang berisi Catatan
1 buah HP Oppo warna Unggu

Kapolsek Nguling IPTU ZUDIANTO, S.H bersama kanit Reskrim AIPTU ZULKIFLI, SH Kanit Intel AIPDA BAMBANG S dan Anggota Sabhara
juga bhabinkamtibmas desa meminta keterangan saksi repertum ke RSUD Grati, lantas
menyarankan kepada keluarga ( ayah korban ) buat surat pernyataan menolak untuk dilakukan visum luar dan dalam untuk otopsi keberatan.

Dari hasil keteangan singkat dengan keluarga, didapati korban mengeluh motif asmara diduga habis putus dengan pacarnya sebagai penyebab korban gantung diri.

Waktu itu Korban sua hari yang lalu sebelum melakukan bunuh diri sempat Curhat, cerita kepada neneknya yg bernama Habibah bahwa akan melaksanakan bunuh diri serta ditemukannya 1 buah buku yang bertuliskan berupa curhatan Korban tentang penolakan seorang wanita juga mempunyai sifat yang tertutup.( tofa/arie/komar)

Resmob Polres Kediri Tangkap Dua Pelaku Spesialis Pencurian Hewan Antar Kabupaten

KEDIRI — Tim Resmob Polres Kediri berhasil mengamankan dua pelaku spesialis pencurian hewan ternak antar Kabupaten. Kedua pelaku itu yakni Andrianto alias Tolib (30) warga Desa Susubango Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri dan Purwito (49) warga Desa Pandantoyo Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri.

Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono S.I.K melalui Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Gilang Akbar mengatakan, penangkapan kedua pelaku itu bermula menerima laporan kasus pencurian hewan ternak yang ada diwilayah Kecamatan Ringinrejo dan Kras.

“Awalnya diwilayah Kecamatan Kras dan Ringinrejo hewan ternak berupa sapi serta kambing ada yang hilang dicuri orang,” ucap AKP Gilang, Minggu (11/10/2020).

Menindaklanjuti laporan tersebut Tim Resmob Satreskrim Polres Kediri melakukan serangkaian penyelidikan di sekitar lokasi kejadian.

Petugas mendapat informasi jika ada orang yang membawa sapi dengan arah keselatan, petugas langsung mengejar pelaku tersebut, akhirnya satu pelaku, Andrianto berhasil diamankan,selain menangkap Andrianto petugas juga mengamankan Purwito, kedua pelaku diamankan di tempat berbeda.

“Kami juga mengamankan barang bukti hewan kambing dari hasil kejahatan kedua pelaku,” ungkap AKP Gilang.

Dikatakan AKP Gilang, dari hasil keterangan kedua pelaku, mereka melakukan pencurian hewan ternak bertiga, mereka mencuri hewan di berbagai daerah termasuk diwilayah Kabupaten Tulungagung, dan setelah berhasil mencuri hewan ternak milik warga mereka menjual di pasar hewan.

“Ada satu teman dari dua pelaku yakni F yang saat ini masih kita kejar, Untuk kedua pelaku ini mencuri hewan ternak di wilayah Tulungagung dua kali sedangkan di Kediri empat kali, Mereka menjual hewan ternak hasil curiannya itu di pasar Pagu dan Ngadiluwih,” jelas AKP Gilang.

Selain mengamankan kedua pelaku, lanjut dikatakan AKP Gilang Akbar, pihaknya juga mengamankan barang bukti berupa satu unit mobil pikup yang dipakai kedua pelaku mengangkut hewan ternak.

Kedua meringkuk di sel tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku terjerat pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian disertai pemberatan.

“Kedua pelaku saat ini masih kami mintai keterangan guna mempertanggungkan jawaban perbuatannya,” tandasnya.(Sum)

Musim Pandemi Covid, Antrian Panjang Terjadi Di BNI Kertosono

NGANJUK — Disaat pemerintah berupaya memberikan edukasi terhadap masyarakat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan, justru terjadi antrian panjang di kantor BNI cabang Kertosono.

Tiap hari ratusan Warga antri untuk mengurus pembuatan ATM Prakerja.

Hal ini terjadi dikarenakan dari tiga Kabupaten yakni Kediri, Nganjuk, Jombang hanya ada tiga lokasi yakni BNI Kandangan, Kediri kota dan Kertosono.

Penumpukan pemohon pembuatan ATM tersebut sebenarnya sudah ditentukan dalam tiap hari kisaran 80 pemohon, akan tetapi karena membludaknya pemohon, akhirnya diputuskan sebanyak 125 pemohon tiap hari.

Hal yang menyebabkan antrian panjang di BNI Kertosono disinyalir warga dari tiga wilayah tersebut.

Sarifuddin, salah satu warga yang sempat melintas dilokasi, sangat menyayangkan hal tersebut, karena saat ini semua berupaya melawan wabah corona dengan selalu mematuhi protokol kesehatan.

Disatu sisi warga yang membutuhkan Kartu ATM prakerja juga berusaha untuk segera mendapatkannya.

“Waduh kok rame begini, ini sangat rawan adanya penyebaran covid,” Keluh Sarifudin.

Sementara itu dari pihak bank BNI sendiri sudah berupaya memberikan pengertian kepada warga untuk selalu menjaga jarak, dan dari Security bank terus aktip mengawasi dan membagi tempat antri dengan harapan tidak terjadi desak desakan.(Ahmad)

Surat Rekomendasi Kemenag Sidoarjo Untuk Gereja-Gereja Patut Dipertanyakan

SIDOARJO –Total ada 89 Surat Rekomendasi Kemenag Sidoarjo yang dikeluarkan atas inisiatif Ormas Bamag pada tahun 2019. Surat rekomendasi ini terkait tuntutan SKB 2 Menteri 2006 tentang pendirian rumah ibadah. Patut dipertanyakan karena ada banyak kejanggalan dalam prosesnya, Sabtu (10/10/2020).

Kepada awak media, Kememterian Agama Sidoarjo telah membenarkan bahwa tahun 2019 ada sejumlah besar surat rekomendasi untuk gereja yang ditandatangani oleh Ahmad Rofi’i kepala kantor.

Jumlah ini terkonfirmasi menjadi 89 dari pengakuan ketua Ormas Bamag Sidoarjo sebagai penghubung antara Gereja dengan Kemenag.

Setelah mempelajari dan mengkonfirmasi pihak-pihak terkait, awak media mencoba mempertanyakan beberapa hal untuk mendapatkan titik terang terkait surat rekomendasi ini.

Ditemui di ruangan kerjanya, kepala kemenag yang baru Amir Solafudin meminta maaf karena belum dapat menjawab dan memohon agar pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan awak media disampaikan lewat tulisan.

Berikut beberapa hal yang dipetanayakan;

Berapa Biaya Yang Dikenakan Kemenag Untuk Selembar Surat Rekomendasi Gereja?

Jawaban atas pertanyaan ini penting diketahui publik. Pasalnya dari penelusuran awak media terdapat pengakuan dari gereja-gereja bahwa mereka mengeluarkan biaya yang jumlahnya variarif bahkan hingga 6 juta demi selembar surat rekomendasi kemenag.

Hal ini juga terkonfirmasi dari pernyataan Fredy saat menjadi moderator Bamag dalam Rapat Koordinasi Progres Perizinan yang diadakan di gedung Gereja HOG Sidoarjo, Senin (5/10/2020)

“Dalam hal ini tidak ada yang tidak pakai uang” tegas pria berkacamata ini.

Seolah membenarkan rekannya di Bamag, Agus Susanto ketua Bamag LKKI membandingkan jumlah yang dikeluarkan gereja-gereja di Sidoarjo belum seberapa.

“Ini di Bandung saya tidak menyebutkan gerejanya, sudah keluar 70 juta tapi hasilnya tidak ada”, ungkapnya sambil menunjukkan kwitansi dan beberapa kertas.

Perlu diketahui bahwa Bamag merupakan Ormas yang menjembatani antara Gereja dan Kemenag dalam proses penerbitan rekomendasi. Termasuk jembatan penyerahan biaya dari gereja.

Oleh karenanya penting bagi Kemenag Sidoarjo menyampaikan transparansi terkait biaya ini.

Transparansi penting agar publik tidak menduga-duga ada main antara Ormas dan Kepala Kemenag.

Mengapa Kepala Kemenag Sidoarjo Tidak Melibatkan Bimas Kristen Kanwil Jatim dalam Pemberian Rekomendasi?

Kabar tidak dilibatkannya Bimas Kristen Kanwil Jatim dibenarkan oleh Pembimas Kristen, Teguh Supriadi S.Th.

Kepada awak media, pembimas menyampaikan bahwa sepatutnya urusan badan hukum gereja memang menjadi tupoksi dari Bimas Kristen.

“Itu tupoksi Bimas Kristen, harusnya kita dikoordinasikan”, ungkap pejabat yang sebelumnya berkecimpung dalam dunia punyuluhan Kristen ini.

Menurut Peraturan Menteri agama 42 tahun 2016 pasal 495 sampai 549 tentang tata kerja Kemenag jelas bahwa usuran badan hukum gereja adalah tugas Bimas Kristen. Hal ini juga ditegaskan dalam Surat Edaran Dirjen Bimas Kristen no: B-339/DJ.IV/Hm.00/08/2020 tertanggal 25 Agustus 2020.

Keputusan Kepala Kantor Kemenag Sidoarjo yang tidak melibatkan sama sekali Bimas Kristen Kanwil patut dipertanyakan. Hal ini wajar dikarenakan rekomendasi Kemenag pasti akan berkaitan dengan keabsahan Induk Gereja atau sinode perlu diperiksa oleh bimas kristen. Jika Bimas tidak dilibatkan maka pertanyaannya ada apa dengan Kemenag Sidoarjo?

Transparansi penting agar publik tidak menduga-duga ada main antara Ormas dan kepala Kemenag.

Apakah Rekomendasi Kemenag Sidoarjo Identik dengan Izin Gereja?

Dalam Rapat progres perizinan di Gereja HOG (5/10/2020), Bamag berpesan kepada gereja penerima rekomendasi agar menyimpan surat tersebut dengan baik. Fredy menyampaikan analogi SIM untuk menggambarkan rekomendasi Kemenag.

“Itu seperti SIM bagi kita”, ungkap Bendahara Bamag ini.

Awak media mencoba mengkonfirmasi kepada pejabat kemenag Sidoarjo. M. Arwani selaku Kasubag TU menyampaikan bahwa surat tersebut ditujukan kepada Bupati selaku kepala daerah untuk kemudian ditindaklanjuti.

“Keputusannya ada di Bupati pak”, ungkap Kasubag TU.

Awak media menemui di lapangan bahwa analogi dari Ormas Bamag ini telah meracuni pikiran gereja. Semua gereja yang ditemui awak media menyimpan bahkan ada yang melaminating surat tersebut. Padahal Penerima rekomendasi Kemenag adalah Bupati. Seharusnya gereja meneruskan surat tersebut kepada pihak yang berhak menerimanya. Yaitu Bupati Sidoarjo.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah rekomendasi kemenag identik dengan izin gereja? Pertanyaan ini penting dijawab agar umat mendapat kepastian dan edukasi yang benar.

Transparansi penting agar publik tidak menduga-duga ada main antara Ormas dan kepala Kemenag Sidoarjo. ( Tim)

Risma Marah, Demo Tolak UU Cipta Kerja Rusak Fasilitas Umum

SURABAYA — Ribuan orang dari berbagai elemen mahasiswa dan buruh melakukan aksi demo menolak Undang-undang Cipta Kerja di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (8/10/2020).

Aksi tersebut berakhir ricuh dan mengakibatkan sejumlah fasilitas umum dan pot pot tanaman yang ada di Jalan Gubernur Suryo Surabaya rusak.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini merasa tidak terima atas kerusakan itu, emosinya memuncak, lalu ia menghampiri salah seorang pengunjuk rasa yang ditangkap petugas kepolisian usai unjuk rasa.

“Kamu anak mana?,” bentak Risma dengan nada tinggi.

Pendemo tersebut mengaku berasal dari Madiun. Ia ditangkap petugas karena diduga terlibat dalam kericuhan perusakan fasilitas umum di Kota Surabaya.

Sementara pendemo yang masih tergolong usia muda itu, hanya terdiam ketika dimarahai Risma. Ia hanya meminta maaf dan meringkuk di depan Walikota perempuan pertama di Surabaya itu.

“Maaf bu. Saya mohon maaf bu,” kata pendemo usia muda tersebut.

Setelah meluapkan kemarahannya, Risma kemudian bersama jajarannya melakukan bersih bersih jalan dengan memunguti bebatuan, sandal dan pecahan kaca bekas kerusuhan demo menolak UU Cipta Kerja kemarin. (tim)

Wabup Resmikan TPS Banjarwaru.

LUMAJANG — Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati mengapresiasi keterlibatan PT. Grand Zam Zam Indonesia dalam pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Banjarwaru. Menurutnya, pengelolaan sampah di Kabupaten Lumajang, tetap menjadi salah satu permasalahan yang tidak kunjung usai. Oleh karena itu, perlu adanya peran masyarakat dan keterlibatan stakeholder untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal itu disampaikan Wakil Bupati Lumajang, saat meresmikan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Banjarwaru, Jum’at (9/10/2020).

“Sampah ini persoalan yang tidak akan selesai, setiap orang akan memunculkan sampah setiap hari, kalau hanya mengandalkan DLH tidak akan selesai, harus ada kemauan yang baik dan ide dari masyarakat dan para pengusaha, seperti TPS Banjarwaru ini,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Wabup yang akrab disapa Bunda Indah itu juga berharap TPS Banjarwaru bisa dijadikan percontohan, utamanya untuk para developer property yang membangun perumahan di wilayah Kabupaten Lumajang.

“Ini adalah yang pertama, saya berharap akan diikuti oleh yang lain, ini pilot project, ini harus dicontoh oleh developer yang lain,” ujarnya.

Sementara Kepala Desa Banjarwaru, Samsul Arifin mengatakan bahwa TPS Banjarwaru itu dibangun dengan menggunakan dana CSR PT. Grand Zam Zam Indonesia. Dirinya berharap adanya TPS Banjarwaru memberikan manfaat kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah.

“Semoga TPS dibangun ini bisa dirasakan manfaatnya, sehingga juga masyarakat bisa semangat untuk Banjarwaru bersih,” ujarnya.

Terkait TPS Banjarwaru, dirinya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang.

Di sisi lain, Direktur PT. Grand Zam Zam Indonesia, Ma’ruf Nidhomudin berharap pembangunan TPS Banjarwaru akan membantu masyarakat terkait pengelolaan sampah. Dirinya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah desa lainnya terkait persoalan sampah.

“Kami juga terbantu, untuk warga perumahan juga turut memanfaatkan, nantinya kami juga akan berkoordinasi dengan pemangku wilayah setempat untuk pengolahan sampahnya,” jelasnya. (red)

Pemkab Salurkan BSB Kemensos Kepada 43.558 KPM PKH di Lumajang

LUMAJANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang mulai menyalurkan program Bantuan Sosial Beras (BSB), dari Kementerian Sosial RI kepada sekitar 43.558 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH di Lumajang.

Penyaluran bantuan tersebut, secara langsung dilaunching oleh Asisten Pemerintahan Setda Kabupaten Lumajang Imam Suryadi, didampingi Kepala Bulog Sub Divre Probolinggo Krisna Murti, di Gudang Bulog Baru (GBB) Desa Curah Petung Kecamatan Kedungjajang, Kamis (8/10/2020).

Imam Suryadi mengungkapkan, bahwa program BSB dari Kemensos RI tersebut, bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin melalui pemenuhan kebutuhan pangan beras pada masa pandemi Covid-19.

Lanjut dia, untuk sasaran program BSB, setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan menerima bantuan beras 45 kilogram untuk bulan Agustus hingga Oktober 2020, dengan total penerima sekitar 10 juta KPM se-Indonesia.

“Di Kabupaten Lumajang, sasaran program BSB sebanyak 43.558 KPM, dengan total bantuan beras sejumlah hampir dua ton atau 1.960.110 kilogram, dan akan disalurkan ke 248 titik penyaluran,” ungkap dia.

Ia menambahkan, bahwa sesuai dengan arahan Bupati Lumajang Thoriqul Haq, Bulog dan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), diminta untuk memastikan kualitas dan pendistribusian beras agar tepat sasaran.

“Arahan bupati mohon dipastikan stok beras tercukupi dengan beras medium, diharapkan ada pengecekan kualitas beras dan memantau penyaluran beras agar benar-benar tepat sasaran, kalau ada permasalahan silahkan melaporkan ke Dinas Sosial Kabupaten Lumajang,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lumajang Dewi Susianti menjelaskan, bahwa pendistribusian program BSB di Kabupaten Lumajang dilaksanakan pada 8 – 12 Oktober 2020. Sementara, untuk beras yang diterimakan kepada KPM PKH adalah 15 kg per bulan selama tiga bulan ke depan.

“Pendistribusian beras akan didistribusikan melalui rumah ketua kelompok dan e-Warung. Mudah-mudahan nantinya tepat waktu dan sasaran,” pungkasnya. (red)

Mahasiswa Dan Para Buruh Pasuruan, Kembali Demo Tolak Disyahkannya Omnibus Law

PASURUAN –
Ratusan para buruh dan seluruh mahasiswa masyarakat tergabung menjadi satu gelar aksi demo menolak pengesehan Omnibus Law RUU Cipta di sahkan menjadi Undang-Undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama Pemerintah Pusat dalam sidang paripurna

Dalam kondisi sekarang ini belum tepat disahkannya Omnibus Law RUU Cipta Kerja menjadi Undang-undang, kini ratusan masa menyampaikan penolakannya di depan Gedung DPRD Kota pasuruan Pasuruan, jum’at 9/10/2020

Dengan lantang sejumlah masa serentak mengatakan Dpr jancok dpr jancok dpr jancok berulang kali sambil dengan melentangkan sepanduk yang bertuliskan DPr anjing dan berbagai tulisan lain sebagai luapan mosi tak percaya

Kericuhan pun terjadi aksi demo membakar ban karet pembatas di perempatan selain itu masa juga memecah kaca pos polisi di perempatan jalan balai kota selatan kantor DPRD Kota Pasuruan.

Ketua DPRD Ismail marjuki dan wakil DPRD kota di dampingi sekretaris dewan menemui ratusan masa untuk berdialog, namun masa menolak dan tutup telinga terkesan sudah tidak percaya lagi kepada Wakil akyatnya, sembari bernyanyi sehingga aksi demo berlangsung lama dan mengakibatkan kerusakan fasilitas umum dan kaca jendela bagian depan rumah dinas wakil walikota Pasuruan

Aksi makin memanas, massa memulai lempar batu ke arah petugas polisi sehingga petugas menyemprotkan water canon ke arah aksi memukul mundur, massa semakin tak terkendali sehingga ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bergegas keluar kembali menemui masa sampai ketengah perempatan jalan balai kota, mencoba menenangkan massa agar tidak anarkis dan segera kembali membubarkan diri

Hasan, perwakilan aksi dari mahsiswa mengatakan, masa yang ikut dalam unjukrasa sebenarnya tadi sedikit tiba tiba di waktu mulai aksi masa membludak tak terkendali menimbulkan kericuhan dari massa yang baru datang. (tofa/arie)

Puskesmas Lumbang Adakan Edukasi Pada Calon Pengantin Dan Pasangan Muda

PROBOLINGGO — Hari ini jumat, 9 oktober 2020, Balai desa Lumbang Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo ramai dipenuhi oleh calon calon pengantin muda dan pasangan baru menikah.

Acara yang dimulai pukul 08.00 pagi ini dihadiri oleh kepala desa Lumbang Suwaras, kepala Puskesmas Lumbang, dr.Ria Tjahjandani MM, bidan puskesmas Lumbang, Aisyah, petugas laboratorium puskesmas Lumbang, Erli, kader kader desa Lumbang, serta para pasangan calon pengantin didesa Lumbang.

Kegiatan tersebut dilaksanakan guna memberikan penyuluhan kepada pasangan pasangan muda didesa Lumbang, menyangkut seputar pernikahan serta KB (keluarga berencana), alat kontrasepsi yang baik guna menunda kehamilan sementara.

Seperti yang disampaikan oleh bidan Aisyah, bahwa mengingat angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi dan desa lumbang termasuk desa yang ikut menyumbang angka kematian tersebut, maka penting mengadakan kegiatan semacam ini, yakni membina pasangan muda dan calon calon pengantin agar memahami bahwa pernikahan itu harus benar benar dipersiapkan sejak dini.

“semoga kegiatan ini bisa menyadarkan masyarakat khususnya didesa lumbang untuk menikah pada usia yang dianjurkan oleh pemerintah, serta menunda kehamilan sementara sampai batas usia yang juga dianjurkan oleh pemerintah, sehingga siap secara fisik dan mental untuk memiliki anak yang secara otomatis perceraianpun dapat terhindarkan,” harap Aisyah.

 Selain mendapat penyuluhan, para calon pengantin juga mendapat fasilitas kesehatan seperti suntikan TT (tetanus), sharing terbuka baik tenaga medis dan sesama peserta, penimbangan berat badan, dan pengukuran tensi darah.

Dalam pelaksanaan Kegiatan tetap selalu menerapkan protokol kesehatan, dengan memakai masker, menjga jarak dan yang hadir di wajibkzn mencuci tangan dengan sabun ditempat yang sudah dipersiapkan oleh pihak pemerintah desa.

Suwaras, kepala desa Lumbang, berharap dengan diadakan kegiatan oleh pihak puskesmas, dapat menjadikan calon pengantin siap membina rumah tangga dengan berbagai pengetahuan yang diperolehnya dalam kegiatan tersebut.

Diuraikan lebih jauh oleh Suwaras, jika angka perceraian itu terjadi karena kekurang matangan dari calon pengantin, baik secara moril maupun pengetahuan tentang kwajiban dan tanggungjawab dalam membina rumahtangga. ( wulan)