Home Blog Page 1912

Hujan Lebat, Tebing 15 Meter Longsor

LUMAJANG – Tebing setinggi 15 meter di Desa Oro-oro Ombo Kecamatan Pronojiwo longsor pada Senin (02/11/2020) dini hari akibat terjadi hujan lebat.

Kepala Bidang Kedaruratan, Rehabilitasi dan Rekontruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab Lumajang, Setiawan Purnomo mengungkapkan longsoran tebing sempat menutupi badan jalan.

“Tadi malam hujan deras mengakibatkan longsor, tadi sekitar jam 3-4 kejadiannya, longsor menutupi badan jalan di Dusun Sumberbulus, Desa Oro-oro Ombo,” ungkapnya

Dijelaskan, pihak BPBD telah melakukan penanganan longsor tersebut dengan mengerahkan timnya yang juga dibantu TNI-Polri dan masyarakat agar jalan segera dapat dilintasi pengendara.

“Saat ini masih ditangani oleh BPBD, Tagana, Forkopimca Pronojiwo bersama masyarakat, untuk roda 2 masih bisa lewat, untuk roda 4 masih diusahakan,” jelasnya.

Setiawan mengungkapkan bahwa di jalur Piket Nol ada beberapa titik rawan longsor yang menjadi pantauan BPBD Lumajang. Untuk itu, pihaknya berharap agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan melintas Piket Nol ketika hujan turun.

“Untuk masyarakat ketika hujan deras dimohon tidak melintasi karena di Piket Nol beberapa titik masih rawan longsor, jangan memaksakan diri untuk berkendara, beberapa titik rawan bisa terjadi longsor sewaktu-waktu,” tuturnya. (bam)

Ormas Balawangi, Deklarasi Dukungan Kepada Paslon 02 Dalam Pilbub Banyuwangi

BANYUWANGI –Ormas Balawangi mengadakan deklarasi pemberian dukungan kepada pasangan calon nomor urut 02 (Ipuk-Sugirah), dalam pesta demokrasi pemilihan bupati dan wakil bupati Banyuwangi 2020.

Agus, wakil ketua Balawangi meyakini jika nantinya kepemimpinan Ipuk Fiestiandani dan H. Sugirah, nantinya akan dapat memimpin Banyuwangi lebih baik lagi.

“Karna kami yakin bahwasanya ipuk bisa menjadi pemimpin sebagaimana seperti Abdullah Azwar Anas selaku suami, yang sudah menjabat selama 10 tahun menjadikan banyuwangi dari kota yang terkenal kota santet menjadi kota wisata,” tegas Agus.

“Dengan ini menyatakan Dengan sepenuh hati mendeklarasikan dukungan kepada paslon nomor urut 02, siap memperjuangkan dan memenangkan serta mengamankan suara Paslon 02 dengan kemenangan yang terhormat dan bermartabat
menginstruksikan kepada jajaran pengurus di setiap tingkatan untuk satu komando, dan bekerja sama dalam memenangkan pasangan Ipuk Fiestiandani dan H. Sugirah,” lanjutnya.

Diuraikan juga, untuk organisainya berjuang keras untuk meraih kemenangan dalam pesta demokrasi tersebut, dan tetap selalu menghormati pihak lain.

“Menang terhormat dengan kemenangan yang tinggi tanpa harus merendahkan,
menang bermartabat dengan kemengan yang besar tanpa harus mengecilkan,
menang terpuji dengan kemenangan yang diberkahi oleh Allah SWT,” paparnya lagi.

Deklarasi pemenangan pilbup no 2 ini di ikuti oleh 10 korwil Balawangi, dan 5 anggota masing masing perwakilan dari 10 korwil balawangi, mereka dengan semangat dan menyatakan satu komando untuk pemenangan nomor urut 02.

Tarian Gandrung Jaripah dari Balawangi, di area tempat pertemuan yang berada di Cafe Pesona Osing, ikut memeriahkan acara deklarasi tersebut (Relly)

YANG TERLUPAKAN

(Oleh : Sulianto)

Sejak tanggal 5 september 2020, ketika Dewan Perwakilan Rakyat melaksanakan paripurna ke-7 masa persidangan 2020-2021, dikomplek parlemen senayan Jakarta, dan mengetuk palu sebagai tanda disyahkannya Omnibus Law Ciptakerja menjadi undang-undang, sehingga memancing reaksi dari para mahasiswa dan kaum buruh.

Gelombang unjukrasapun tak terelakkan, banyak jatuh korban dari para pengunjukrasa dan aparat, hingga harus dilakukan perawatan medis.

Hal tersebut hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat dimasyarakat, mahasiswa dan kaum buruh, termasuk tokoh elit negeri ini, yang ikut menyuarakan dibatalkannya Undang-undang tersebut.

Sementara diujung sana, para pekerja bangunan masih terus bekerja dalam menyelesaikan sebuah bangunan, mereka bekerja dan bekerja dengan segala kemampuan dan tanggungjawab dengan apa yang harus diselesaikan tepat waktu yang telah ditentukan, dengan didampingi oleh tenaga teknis dan perancang bangunan handal dan profesional.

Siang itu kang jarwo, sang mandor buru buru pamit kepada para pekerja untuk pulang lebih awal, karena anak semata wayangnya sedang ulangtahun.

Para pekerjapun terus melanjutkan aktifitasnya tanpa ada pengawasan dan pendampingan, akan tetapi mereka tetap semangat dan penuh tanggungjawab dalam menjalankan pekerjaannya sampai batas waktu istirahat.

Disudut bangunan megah, para pekerja mendirikan barak untuk tempat istirahat, masak dan sekaligus sebagai tempat tidur.

Sore itu kang maman dan kawan kawan sesama pekerja, menyimak berita dari sebuah televisi swasta, tentang unjukrasa dari berbagai daerah yang menyuarakan hak kaum buruh.

Memang kang Jarwo menyiapkan televisi dibarak tersebut dengan harapan para pekerja dapat menikmati hiburan seusai bekerja seharian, disamping itu mereka rata rata dari luar kota yang jauh dengan keluarga.

Terjadi obrolan hangat dibarak sempit dan pengap itu, akan tetapi didalamnya dihuni oleh orang orang perkasa, yang selalu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan negeri ini dengan segala kemampuannya, gedung pencakar langit, jalan tol penghubung antar kota, bandara, sampai membangun Istanapun dipastikan melibatkan mereka.

Keahlian mereka tidak tertuang dalam diktum dikementerian apapun, bahkan di kementerian yang menangani kaum pekerja, keahlian merekapun tidak masuk didalamnya.

Tiba tiba, dari luar cak gito yang baru mandi masuk barak dan langsung komentar tentang berita di televisi.

“Lapo, kok yo gelem geleme melu unjukrasa ngono iku, mbok kerjo malah oleh duwit,” ujar gito dengan santainya.

Tentu celetukan gito mengusik teman temannya yang sejak tadi menyimak berita di televisi dan secara tidak langsung juga terbawa arus prokontra diantara teman dalam barak tersebut.

” lho, awakmu ki piye to git, poro mahasiswa iku berjuang kanggo nasib poro buruh, mulo nyemak lek ono brita,” protes kang agus.

Kang Mistari yang sejak awal nampak serius menyimak televisi, ikut menyalahkan Gito yang memang sifatnya acuh tak acuh itu.

“Gito ojo dijak mikir ngene ki, pokok ono kopi karo udut wis lali sembarang,” timpal Mistari.

Teman temannya semua nampak serius dan sesekali berkomentar, ada yang mendukung gerakan unjukrasa, adapula yang menentang dan sebagian tidak peduli dengan apa yang terjadi diluar sana.

Sementara Gito, duduk diatas tumpukan kayu bangunan diluar barak, menikmati kopi pahit dan menghisap rokok kretek yang menjadi favoritnya.

Dua puluh menit berlalu, siaran televisi tentang unjukrasa usai, tetapi dalam barak para pekerja bangunan tadi masih belum berhenti membahas topik unjukrasa.

” la iyo, kok sampean kabeh podo serius temen, melu mbahas masalah hak buruh, opo nek kasil awake dewe melu ngrasakne…?,” suara Gito dari luar terdengar dari dalam barak.

Obrolanpun makin seru dan menjurus pada perdebatan, akhirnya Gitopun ikut nimbrung dengan teman temannya.

“Ngene lo git, mosok nasipe tukang bangunan koyok awake dewe pancet ngene ae, kudu didukung gerakan mahasiswa kuwi,” Kang iwan ikut bersuara dengan nada protes kapada gito.

Sore itu gito menjadi omelan , cemoohan dan sindiran dari teman sekerjanya, akan tetapi gito bersikap tenang dan tidak menunjukkan sikap marah, justru tersenyum dan terkesan meremehkan apa yang menjadi pembahasan sekerjanya.

Dengan menggeser tempat duduknya, gito berusaha lebih dekat, memberi penjelasan kepada teman temannya, yang sejak tadi saling beda pendapat.

Gitopun memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam, “Assalamualaikum,”…., sehingga suasana hening dan seperti dalam rapat resmi antara Camat dengan kepala desa dalam musrencam.

“Ngene lo co, ojo kemrungsung, ojo mikir aneh aneh, mikir piye garapane awake dewe cepet mari, lan oleh duwit kanggo anak bojo,” Suara gito tegas.

Tentu kata kata gito mendapat protes keras dari teman temannnya, bahkan kang Nova yang tadinya diam, ikut memarahi gito.

Hal itu justru membuat gito tertawa cekikikan.

“Oalah co, mosok sampean gak sadar, lek pemerintah ngundakno gaji buruh, opo gajine awake dewe melu mundak…?,” cetus gito sambil bercanda.

Seketika suasana dibarak menjadi hening, para pekerja saling berpandang pandangan, ada yang menggerutu, tertunduk, tapi ada juga yang tetap bertahan pada pendiriannya untuk membahas apa yang terjadi.

Gitopun melanjutkan pebicaraannya, dengan santai tetapi penuh percaya diri, sore itu, Gito bak guru besar yang memberikan kuliah umum dan menjadi perhatian teman temannya.

Dari obrolan ringan yang terjadi dibarak, semua para pekerja tadi memahami jika gerakan apapun, dan undang undang yang barupun tidak berpengaruh pada keahlian mereka, dan mereka tetap bertahan dengan kesendiriannya, tanpa ada perlindungan, tanpa ada hak untuk melakukan protes, bahkan jika dipecatpun mereka tidak berdaya.

Ironis memang, hasil karya mereka telah diakui dan dinikmati oleh dunia, tetapi hingga kini belum ada wadah dan regulasi yang mengayomi dan membina mereka.

Diujung jalan, nampak seorang yang sedang santai dan memandangi gedung tinggi yang dalam proses penyelesaian.

Totok Supriyadi, atau yang akrab dipanggil kang Totok ini, merupakan pendiri Asosiasi Pekerja Konstruksi Jawa Timur ini berbagi cerita dan pengalamannya.

Bapak kelahiran Probolinggo, 48 tahun silam ini sudah malang melintang di berbagai perusahaan kontraktor nasioanal maupun internasioanal, dan banyak terlibat mulai sebagai surveyor hingga supertendent dalam pembangunan pabrik, bandara, dermaga maupun hotel berbintang.

Profesi yang mendatangkan rupiah yang cukup lumayan besarpun harus ditinggalkannya, karena merasa tidak ada keadilan dan perlindungan hukum akan profesi yang digelutinya.

“Ibarat habis manis sepah dibuang mas,” keluh kang Totok.

Sambil menghisap cerutunya, kang Totok melanjutkan obrolannya dan agak serius lagi dalam menyikapi nasib para tukang yang pernah digelutinya.

“Sing mbangun Istana, monas, masjid Istiqlal iku yo tukang mas, tapi sepanjang sejarah negeri ini, tak sehelai penghargaanpun kepada keahlian mereka,” keluh kang totok.

Kang Totokpun mencoba menyitir buku Mansoury, dengan menyebutkan “Negara Yahudi besar dan maju karena adanya pemikiran kelompok tukang batu dan kayu”

Memang keahlian mereka bekerja disektor nonformal, yang dalam pelaksanaannya hanya berdasarkan kesepakatan kedua pihak, antara pekerja (kuli bangunan) dengan pemborong atau pihak pengguan jasa mereka.

Untuk mengenang masa lalu dan menghargai para tukang kuli bangunan, Totokpun membangun sebuah “PATUNG TUKANG” ditengah kota kelahirannya Probolinggo, dan patung tersebut masih berdiri kokoh diantara lalu lalang lalulintas, serta deru mesin ekonomi yang terus berjalan, entah sampai kapan…?

Akankah dapat bertahan seperti para pekerja yang selalu membangun dan membangun….?
Ataukah akan tergerus dengan keserakahan kota…?

Andai patung itupun lenyap, tetapi keahlian nyata dari mereka tetap di butuhkan, pahlawan yang disayang sesaat dibutuhkan, meskipun akhirnya juga terlupakan.

(Jelang Hari Pahlawan ’20)

Naiknya Harga Cabai Merah Turut Andil Terjadinya Inflasi

0

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga cabai merah menjadi salah satu penyebab terjadinya inflasi pada Oktober 2020 sebesar 0,07 persen.

Dengan angka ini, maka tingkat inflasi tahun kalender dari Januari gke Oktober 2020 tercatat sebesar 0,09 persen dan inflasi tahun ke tahun 1,44 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga cabai merah yang menyumbang andil inflasi 0,09 persen itu dipengaruhi oleh tingginya curah hujan di berbagai daerah.

“Pada bulan Oktober tahun 2020 inic terjadi inflasi sebesar 0,07 persen,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (02/11/2020).

Ia mengatakan kenaikan harga cabai merah terjadi di 82 kota dengan kenaikan tertinggi di Bulukumba hingga 85 persen serta Padangsidimpuan dan Tegal hingga 76 persen.

Dia menambahkan, sesudah tiga bulan berturut-turut mengalami deflasi pada Juli, Agustus, dan September, pada bulan Oktober ini mengalami inflasi tipis yaitu sebesar 0,07 persen.

Bisa dilihat bahwa inflasi umumnya adalah 1, 44 persen sedikit meningkat dibandingkan posisi bulan September yang sebesar 1,42 persen.

“Dengan catatan kalau dibandingkan posisi bulan Oktober tahun 2019 inflasi pada bulan Oktober tahun 2020 yang sebesar 1,44 persen ini tergolong sangat rendah karena pada bulan Oktober tahun 2019 inflasi sebesar 3,13 persen,” tandasnya. (zen)

Kayu Kerangka Lapuk, Atap Gedung SD Ambruk

PASURUAN –
Atap sekolah SDN Gentong, jalan kyai haji sepuh nomor 49 Kelurahan Gentong kota Pasuruan, 2 nopember 2020 ambrol, hal itu dikarenakan kayu yang sudah rapuh tidak kuat menahan beban genting yang cukup berat.

Peristiwa ambrolnya atap kayu penahan genting yang di duga tidak tepat pemasanganya, jadi tidak kuat menahan beban genting, hal itu yang disinyalir penyebab ambrolnya atapa gedung dan menimpa kelas taman kanak- kanak (TK) kelas A dan B yang berada di bagian belakang sekolah tersebut.

Menurut Endang, selaku kepala sekolah, ambrolnya atap yang terjadi hari kamis sore itu, sebenaranya sudah mendapat rehab, namun tidak bisa di laksanakan tahun ini.

Disampaikan juga kondisi gedung sekolah tersebut memang sudah waktunya di rehab, untungnya para murid sudah di pindahkan ke sekolahan yang baru.

“Yah memang gedungnya sudah waktunya direhab mas, tapi untung anak anak sudah dipindahkan sebelumnya ke ruang lain,” Ujar Endang sambil terburu buru.

Saat kejadian robohnya atap tidak ada aktifitas, sehingga tidak ada korban jiwa hanya material kayu dan genteng bekas yang roboh berserakan di halaman kelas dan belum di bersihkan.

Hingga berita ini diturunkan, kepala dinas pendidikan maupun dinas PUPR belum berhasil dikonfirmasi (arie)

Kodim 1013 Muara Teweh Bersama TGSTD Covid-19 Bagikan Masker

0

 
BARITO UTARA –Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2020 serta dalam upaya, membantu mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, khususnya diwilayah Kabupaten Barito Utara.

Kodim 1013 Muara Teweh bersama Tim Gabungan Satuan Tugas Disiplin(TGSTD) Covid-19, melakukan kegiatan membagikan masker kepada warga Muara Teweh dan warga luar yang lewat di bundaran buah Kodim 1013 Muara Teweh, Senin(2/11/20).
 

Kegiatan diawali dengan apel bersama yang dipimpin langsung oleh Dandim 1013 Muara Teweh, Letkol.Kav.Rinaldi Irawan,M.Han, dihadiri Kapolres Barito Utara, Kasatpol PP beserta Staf, Mahasiswa dan Organisasi Masyarakat.

Dandim 1013 Muara Teweh, dalam sambutannya menyampaikan bahwa, kegiatan pembagian masker yang telah  dilaksanakan ini, dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2020 maka, dengan demikian hendaknya kita semua dapat memaknai hari pahlawan ini, sebagai upaya semangat membangun bangsa.

Letkol.Kav.Rinaldi Irawan,M.Han, mengatakakan Sesuai tema kita pada hari ini yaitu, Pahlawan Di Era Milenial Adalah Pahlawan yang memutus mata rantai penyebaran Covid -19, maka, dari itu pulalah diharapkan, kita sebagai generasi milenial hendaknya bersama-sama berupaya memutus penyebaran Covid-19, terkhususnya diwilayah Kabupaten Barito Utara ini. 

“Melalui kegiatan ini, mudah-mudahan masyarakat semakin sadar akan penerapan protokol kesehatan dan kedepannya pandemi ini cepat berakhir, terkhususnya diwilayah Barito Utara dan Indonesia secara umum,” harap Rinaldi. (SS).

Berwisata Edukasi di Kampoeng Biru Deun

LUMAJANG – Kampoeng Biru Deun merupakan salah satu destinasi yang menjadi pilihan ketika berlibur. Bertempat di Kaliboto Lor Kecamatan Jatiroto, di sini pengunjung bisa berwisata sekaligus mendapatkan edukasi.

Kebun Desa ‘Kampoeng Biru Deun’ merupakan istilah yang menyebutkan kebun desa berwarna hijau pada masyarakat suku Madura. Kebun desa ini dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kaliboto Lor yang diresmikan pada Desember 2019 lalu oleh Bupati Lumajang, Thoriqul Haq.

Inovasi yang dilakukan oleh BUMDes Kaliboto Lor menjadikan bangunan kuno milik Hendroyono dan lahan perkebunan sebagai wahana wisata edukasi merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.

Tempat ini menjadi wisata alternatif yang menarik karena bisa berwisata sekaligus mengenal berbagai tanaman perkebunan. Kampoeng Biru Deun tidak hanya menjadi tempat edukasi anak sekolah dasar namun juga menjadi sasaran mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri mengais ilmu tentang budidaya perkebunan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Lumajang, Yoga Pratomo yang pernah berkunjung ke tempat tersebut menyebut bahwa Hendroyono pemilik Kampoeng Biru Deun bak ‘seniman’ tanaman. Di tempat ini banyak dijumpai tanaman bonsai yang cantik dan berbagai tanaman lain hasil stek dan cangkok yang dilakukan Hendroyono.

“Beliau ini seperti seniman di bidang tanaman, di sini banyak berbagai tanaman bonsai dan berbagai tanaman buah,” ujarnya.

Hendroyono menjelaskan bahwa pengunjung yang datang ke tempatnya akan diajak berkeliling dan dikenalkan satu per satu tanaman di kebunnya. Di sini tak hanya tanaman lokal, tanaman seperti sianci, buah plum dan berbagai tanaman lainnya dapat dijumpai dan yang unik adalah buah ajaib yang dapat merubah rasa masam menjadi manis.

“Setelah makan buah ini, buah lain akan terasa manis,” ujar Hendro. (red)

KJJT siap cetak Wartawan pemula jadi wartawan Profesional

SURABAYA – Pasca penetapan pengurus yang sah secara kelembagaan, Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) juga menggelar lemdik jurnalistik angkatan I tahun 2020 di hotel Square Surabaya pada, Sabtu (31/10/2020).

Menyatukan misi dan visinya dalam sinau bareng mulai dari pemula menjadikan wartawan yang profesional dan wartawan yang sejati. Dengan kesederhananya namun acara perdana lemdik ini terlihat sangat menarik, pasalnya narasumber dalam kali ini adalah Darmantoko dan Abdul Muiz yang merupakan wartawan senior yang sudah merasakan asam garam dunia jurnalistik.

Sesi pertama disampaikan Darmantoko dihadapan perserta lemdik KJJT, wartawan harus menjadi sosok yang betul-betul berkualitas dalam profesinya.

“Wartawan harus mempunyai wawasan yang luas, dimana nantinya kita akan menyajikan sebuah pemberitaan yang betul betul akurat, berimbang dan sesuai fakta,” jelasnya (31/10/2020).

Masih kata Darmanto, setiap wartawan harus mampu menguasai literasi penulisan berita.

“Maka dari itu sering membaca dan jangan segan-segan untuk sinau bareng bersama KJJT agar mampu membuat berita yang betul-betul memenuhi unsur informasi yang formatif, beredukasi dan faktual,” Imbuhnya.

Sesi kedua pada lemdik KJJT diisi oleh Abdul Muiz, wartawan senior yang pernah berkarir di Jawa Pos selama 30 tahun ini, memberikan materi penulisan berita dengan gayanya yang terlihat heroik, namun mudah dimengerti dan dicerna oleh siswa lemdik.

Pada dasarnya wartawan itu harus menguasai materi untuk menulis sebuah berita.

“Wartawan itu harus bisa menulis dan jangan asal dalam penulisan, malah pusing nanti pembacanya,” jelas Muiz yang gemar pancal sepeda gunung ini.

Mantan pimimpin redaksi Jawa Pos Biro Saudi Arabia tahun 2009 ini, juga tidak segan untuk memberikan resep andalan untuk menjadi wartawan yang berkualitas.

Muiz menjelaskan, syarat menulis berita itu harus timeline atau baru terjadi, masih jadi bahan pembicaraan, berpengaruh luas, ketokohan, serta kedekatan.

“Rekan-rekan sebagai wartawan harus paham dan ingat unsur 5 W+1 H (what, where, when, who, why, dan how) dalam penulisan. Itu harus dalam sebuah berita,” imbuh Muiz yang pernah juga menjabat sebagai eksekutif produser JTV 2002-2007.

Sementara itu, Ade ketua Komunitas Jurnalis Jawa Timur mengucapkan terima kasih kepada dosen KJJT. Yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan materi-materi kepada peserta lemdik.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para dosen KJJT yang sudah mau meluangkan waktunya untuk mendidik dan memberikan materi-materi dasar tentang karya jurnalistik,” ucap Ade.

Ade juga menyampaikan kepada peserta lemdik angkatan pertama Komunitas Jurnalis Jawa Timur. Peserta akan di didik oleh orang-orang hebat di KJJT

“Di KJJT banyak orang hebat dan bakal mencetak wartawan hebat, meskipun banyak cibiran diluar tentang kita. Yang penting kita disini masih diperhatikan oleh orang hebat yang dulu pernah menjadi predikat terbaik di dunia kejurnalistikan.” (hen)

Peringati Maulid Nabi, Mushollah Riadul Imam Gelar Khotmil Qur’an

BONDOWOSO- Bertempat di halaman musholla Riadul Imam Desa Grujugan Lor Kecamatan Jambesari Kabupaten Bondowoso, gelar Khotmil Qur’an dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 H.

Dalam acara tersebut di hadiri oleh Bupati Bondowoso Kh Salalwa Arifin, Dandim 0822, Kapolres Bondowoso yang di wakili Kasat binmas IPTU Sido Mukti, SH, Kades Grujugan lor beserta perangkat, Babinsa Koptu supandi, Bhabinkamtimas Bripka Hidayah, serta seluruh guru ngaji se Kabupaten Bondowoso.

Bupati Bondowoso mengharapkan peringatan Maulid Nabi dan khotmil Quran ini, bisa menghidup hidupkan tali silaturahmi antara ulama’ dan umaro’.

“Harapan dari acara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan khotmil Quran ini, supaya memper erat tali silahtur rahmi antara Ulama’ dan umaro’ demi terciptanya kehidupan sejahtera,aman dan tenram, ” papar Bupati KH SALWA ARIFIN.

“Begitu pula, bahwa tidak bisa di pisahkan antara Al Qur’ an dengan Rasulullah saw karena setiap ucapan dan perbuatan Rasulullah cerminan dari Al Quran, sebagai mana firman ALLAH sesungguh perkataan Mu( Muhammad) adalah wahyu dari ALLAH SWT, “imbuhnya.

Bupati Salwa menambahkan, antara Ulama’ dan Umaro, jangan sampai bersebrangan, biar ummat (masyarakat) tidak menjadi bingung. Ulama’ dan Umaro’ harus sejalan. Apabila Umaro’ ada sedikit kekeliruan, maka wajib Ulama’ menasehatinya.

Terutama di Kabuaten Bondowoso khususnya dan di Indonesia umumnya, demi tercapainya masyarakat adil makmur yang berahlakul karimah, masih kata Bupati.

Seluruh rankaian acara ini berjalan dengan lancar, khitmad dan penuh rasa kekeluargaan dalam suasana tetap menjalankan protokol kesehatan. (Ari)

L’SIMA Bike Park Latber Squad Racing

MALANG – Latihan bersama (latber) downhill bike diselenggarakan pada Minggu (01-11-2020) di Lembaga Sarana Asimilasi dan Edukasi (L’SIMA ) yang merupakan Lembaga Pemasyarakatan kelas Siji Malang dan terletak di Desa Maguan Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang.


Kegiatan lomba sepeda downhill, yang sangat menantang segi keterampilan dan juga stamina, tersebut baru pertama kali digelar di tempat ini dengan harapan menarik wisatawan luar daerah. Pertandingan ini dikuti lebih dari 200 peserta yang datang dari beberapa daerah, diantaranya Solo.

Dul Kadir, peserta dari Solo mengatakan dirinya sering kali ikut kompetisi seperti ini. Bahkan dirinya juga mengungkapkan pernah berkompetisi di Propinsi Bali.


Pada ajang kali ini, dipertandingkan kelas Run Men Elite, Run Junior, Run Women Open, Run Youth, Break Free Practice, final Run Men Open , Run Hardtail Open, Run Master Expers, Run Master A , Run Master B.

Pengunjung dan suporter, sekitar seribuan orang, juga tampak memadati lokasi Bike Park L’SIMA.


Meski kondisi hujan, tak menyurutkan semangat peserta maupun suporter untuk terus meramaikan acara yang hingga sore ini. Demikian pula dengan pengunjung yang terlihat menikmati gelaran tersebut sembari berteduh di gazebo-gazebo yang sudah ada. (tim)